Minggu, 14 Juni 2015

conto makalah psikologi perkembangan emosional anak


BAB I
PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang
Pada umumnya, perbuatan kita sehari-hari diserta oleh perasaan-perasaan tertentu yaitu perasaan senang atau tidak senang. Perasaan senang atau tidak senang yang selalu menyertai perbuatan kita sehari-hari disebut warna efektif. Warna efektif ini kadang-kadang kuat,kadang-kadang lemah atau samar-samar saja. Dalam warna efektif yang kuat maka perasaan-perasaan menjadi lebih mendalam, lebih luas dan lebih terarah. Perasaa-perasaan seperti ini disebut emosi. Beberapa macam emosi antara lain gembira, bahagia, semu, terkejut, benci, senang, was-was dan sebagainya.
Perasaan dan emosi biasanya disifatkan sebagai suatu keadaan ( state ) dari diri organisme atau individu pada suatu waktu. Misalnya orang merasa sedih, senang, terharu dan sebagainya. Perasaan disifatkan sebagai suatu kedaan jiwa sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa tersebut pada umumnya menimbulkan kegoncangan padaa individu. Perasaan juga dapat menimbulkan gejala fisik yang terjadi pada diri seseorang. Gejala fisik tersebut dapat berupa gejala pengenalan, gejala jiwa perasaan dan perasaan jiwa kehendak.
Disamping itu juga emosi dapat mengalami perkembangan yang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor- faktor tersebut menimbulkan pola emosi dalam diri seseorang yang berbeda-beda. apabila orang tua tidak bisa mengawasi dalam perkembangan emosi anaknya maka dapat menimbulkan emosi negatif. Dalam perkembangan emosi tersebut dapat kita ketahui kapan emosi-emosi tersebut dapat terjadi.


1.2       Rumusan Masalah
      1.2.1    Apa pengertian perkembangan emosi dan fungsi emosi?
      1.2.2    Bagaimana teori-teori emosi?
      1.2.3    Bagaimana ciri-ciri emosi dan gejala fisik pada emosi?
      1.2.4    Apa saja faktor-faktor yang mempenagruhi perkembangan emosi?
      1.2.5    Kapan terjadinya emosi?
1.3       Tujuan
            1.3.1  Untuk mengetahui dan memahami pengertian perkembangan emosional dan                                   fungsi emosi.
            1.3.2  Untuk mengetahui dan memahami teori-teori emosi.
            1.3.3  Untuk mengetahui dan memahami ciri emosi dan gejala fisik
            1.3.4  Untuk mengetahui dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi                                              perkembangan emosi
            1.3.5  Untuk mengetahui dan memahami kapn terjadinya emosi
1.4       Manfaat
1.4.1 Manfaat Teoritis
               Setelah membaca makalah ini pembaca mampu menambah wawasan, ilmu dan pengetahuannya tentang perkembangan emosi sehingga pembaca dapat mengerti dan memahami keadaan emosi dirinya dan orang di sekitarnya.
1.4.2 Manfaat Praktis
               Pembaca telah memahami dan mengerti isi makalah ini sehingga mampu mengendalikan emosi dirinya dan merespon ketika orang disetarnya mengalami emosi.




BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Emosi dan Fungsi Emosi

        2.1.1 Pengrtian Emosi

        Menurut Hillman ( 1960 ) dan Drever ( 1952 ) dalam M.Darwis Hude ( 2006,17 ), Emosi adalah bentuk yang kompleks dari organisme, yang melibatkan perubahaan fisik dari karakter yang luas-dalam bernafas ,denyut nadi,produk kelenjar dsb. Dapat disimpilkan bahwa emosi adalah suatu ciri dari suatu organisme yang melibatkan proses kerja orgaan dalam organisme tersebut. Sejalan dengan pendapat Hillman dan Drever, M.Darwis Hude ( 2006,18)mengatakan bahwa emosi adalah suatu gejala psiko-fisiologis yang menimbulkan efek pada persepsi, sikap dan tingkah laku, serta mengejawantahkan dalam bentuk ekspresi. Berdasarkan pendapat diatas kelompok kami menyimpulkan bahawa emosi adalah suatu gejala pada seseorang yang dapat berakibat pada sikap dan tingkah laku terhadap ekspresi tertentu.
        Emosi Menurut George Miller: Emosi adalah pengalaman seseorang tentang perasaan yang kuat, dan biasanya diiringi dengan perubahan-perubahan fisik dalam peredaran darah dan pernapasan, biasanya juga dibarengi dengan tindakan-tindakan pemaksaan. Dalam (http://www.pengertian ahli.com/2013/11/pengertian-ahli-menurut-para-ahli.html). dapat disimpulkan bahwa emosi adalah perasaan yang kuat dan biasanya diiringi perubahan fisik yang terjadi pada peredaran darah dan pernapasan.
Emosi Menurut Angels: Emosi adalah kondisi perasaan yang kompleks, yang diiringi dengan beberapa gerakan atau aktivitas kelenjar. Atau, perilaku yang kompleks yang didominasi oleh aktivitas lambung atau organ-organ intrinsik. Dalam (http://www.pengertian ahli.com/2013/11/pengertian-ahli-menurut-para-ahli.html). pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa emosi adalah perasaan yang kompleks yang diiringi beberapa gerakan atau aktivitas organ dalam tubuh.
        Emosi Menurut Dr. Muhammad Najaati dalam (http://www.pengertian ahli.com/2013/11/pengertian-ahli-menurut-para-ahli.html).  Emosi adalah kekacauan hebat yang meliputi segala aspek individu, dan berpengaruh terhadap perilakunya, perasaannya, dan fungsi vitalnya. Asalnya dia muncul dari faktor psikologis. Berdasarkan pendapat diatas,dapat disimpulkan bahwa emosi adalah kondisi perasaan yang berpengaruh terhadap perilaku, perasaan dan fungsi vitalnya.
        Dari berbagai pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa emosi adalah suatu kondisi perasaan yang khas yang diiringi dengan perubahan-perubahan fisik dan sktivitas organ dalam serta berpengaruh terhadap perilaku, perasaan dan fungsi vitalnya.

      2.1.2 Fungsi emosi

         Menurut Coleman dan Hammen dalam ( Jalaludin,1989:46-47, dalam M.Darwis Hude ( 2006:24-25 )) Fungsi emosi dalam kehidupan manusia adalah :

1.    Emosi adalah pembangkit energi (energizer). Tanpa emosi kita tidak sadar atau mati
2.    Emosi adalah pembawa informasi (messenger)
3.    Pembawa pesan dalam komunikasi intrapersonal dan interpersonal.
4.    Sumber informasi tentang keberhasilan yang telah dicapai

Dengan adanya fungsi yang bermacam-macam itu menunjukan dengan jelas bahawa emosi sangat dibutuhkan dalam kehidupan.berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa fungsi emosi sebagai pembangkit energi, sebagai pembawa informasi, pembawa pesan dalam komunikasi interpersonal serta berfungsi sebagai informasi tentang keberhasilan yang telah dicapai.

  Fungsi emosi menurut Achmad Mendatu dalam (http://www.smartspsikologi.blogspot.com/2007/11/apakah-fungsi-fungsi-emosi-html) ialah :
1.   Menimbulkan respon otomatis sebagai persiapan menghadapi krisis.
2.   Menyesuaikan reaksi dengan kondisi khusus.
3.   Memotivasi tindakan yang ditujukan untuk pencapaian tujuan tertentu.
4.   Mengomunikasikan sebuah niat pada orang lain
5.   Meningkatkan ikatan sosial
6.   Mempengaruhi memori dan evaluasi suatu kejadian
7.   Meningkatkan daya ingat terhadap memori tertentu

Dapat disimpulkan bahwa emosi berfungsi sebagai pengontrol perrasaan manusa dari kemungkinannya terjadi ketegangan kejiwaan atau sebaliknya dapat menjaga keseimbangan kimiawi tubuh manusia.

Sejalan dengan  pendapat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa Emosi merupakan suatu kondisi perasaan yang khas yang diiringi dengan perubahan-perubahan fisik dan sktivitas organ dalam serta berpengaruh terhadap perilaku, perasaan dan fungsi vitalnya. Sedangkan fungsi emosi itu sendiri ialah sebagai pengontrol perrasaan manusa dari kemungkinannya terjadi ketegangan kejiwaan atau sebaliknya dapat menjaga keseimbangan kimiawi tubuh manusia.

2.2   Teori-Teori Emosi
1.   Teori James-Lange
                 James Lange mengatakan bahwa emosi adalah hasil persepsi sesseorang terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh sebagai respon terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari luar. Teori ini menekankan emosi sebagai respon dari perubahan faali yang terjadi pada dirinya. Contoh tentang teori ini sebagai mana yang dijelaskan oleh Atkinson et al. (1981:83) Bila Anda tiba-tiba terjerembab di tangga, secara otomatis Anda akan berpegang pada pegangan tangga sebelum Anda sempat menyadari adanya rasa takut. Setelah saat kritis itu berlalu, emosi Anda akan terasa dengan adanya persepsi terhadap jantun yang berdebar keras, napas yang terengah-engah, dan perasaan lemas atau gemetar pada tangan dan kaki. Karena perasaan takut terjadi setelah respon badani, situasi semacam ini membuat teori ini masuk akal (James Lange diperkuat oleh Atkinson et al. (1981:83),dalam M.Darwis Huda, 2006:55 )

                 Menurut Teori diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Teori James Lange menempatkan aspek persepsi terhadap respon fisiologis yang terjadi ketika ada rangsangan datang sebagai pemicu emosi yang dialami oleh manusia. Perubahan- perubahan fisiologis itu diterjemahkan sebagai emosi.
2.   Teori Cannon-Bard
                 Teori Cannon-Bard menjeleskan bahwa perssepsi terhadap obyek yang dapat menimbulkan emosi diproses secara simultan oleh dua instansi yakni sistem syaraf otonom dan cerebal cortex. Degup jantung bulu roma berdiri, aau nafas berat terenga-engah terjadi bersamaan dengan emosi takut. Tidak mungkin terjadi perubahan faali yang menyebabkan kemunculan emosi sebagaimana deskripsi teori James Lange, emosi dengan perubahan fisiologis terjadi secara simultan. (dalam M,Darwis Huda, 2006:57)
    
                 Dalam teori ini dapat disimpulkan emosi muncul bersama- sama dengan perubahan fisiologis atau emosi muncul terlebih dahulu kemudian di susul perubahan fisiologis. Hal ini bertentangan dengan Teori James Lange.
3.   Teori Shachter-Singer
                 M. Dawis Hude (2006:59) teori emosi yang menempatkan kognisi pada posisi yang sangat menentukan dikembangkan oleh Stanley Schachter dan Jerome Singer. Mereka meyakini bahwa emosi merupakan fungsi interaksi antara faktor kognitif dan keadaan keterbangkitan fisiologis. Setiap pengalaman yang membangkitkan emosi akan diberi label di dalam peta kognitif. Label-label itu kemudian dijadikan pola bagi pengalaman-pengalaman baru. Setiap stimulus yang diterima akan dinilai berdasarkan label yang telah tersimpan. Teori Schacher-Singer sering pula disebut two-factor theory of emotion, karena teori ini didasarkan pada dua hal yang terjadi, yakni perubahan fisologis dan interpetasi kognitif. Alur teori Schachter-Singer dapat dijelaskan sebagai berikut: Dimulai dari stimulus yang diterima dari luar kemudian memicu terjadinya perubahan fisiologis dalam tubuh. Selanjutnya terjadi persepsi dan interpretasi terhadap keterbangkitan itu pada situasi khusus yang sudah dikenal dari informasi dan pengalaman yang sudah tersimpan sebelumnya, kemudian terjadilah emosi yang bersifat subyektif.
                 Dari Teori Shachter Singer dapat disimpulkan bahwa Emosi merupakan fungsi interaksi antara faktor kognitif dan keadaan keterbangkitan fisiologis, dari pengalaman yang membangkitkan emosi akan diberi label di dalam peta kognitif. Dari pengalaman sebelumnya akan muncul ketika mengalami hal yang serupa.
4.   Teori- teori lain Menurut snackgratis.blogspot.com/2011/02/hrefislam-download.html
a.    Teori Proses Berlawanan
           Teori Proses-Berlawanan dikembangkan oleh Ridhard Solomon. Ia berpendapat bahwa otak manusia berfungsi memicu emosi. Dua emosi berlawanan, seperti senang dan tidak senang, akan selalu muncul dalam satu rentetan peristiwa. Jika emosi A terjadi kemudian disebut sebagai emosi primer, maka emosi B yang menjadi lawannya dan disebut sebagai emosi sekunder. Akan muncul pula hingga emosi turun kembali pada titik normal seperti sediakala. Otaklah yang terus-menerus berfungsi memelihara keseimbangan atau menjaga equilibrium itu.
     Contoh dari teori ini adalah para penerjun payung amatiran akan merasa senang ketika berhasil mendarat dengan selamat. Senang merupakan lawan dari emosi takut yang dialaminya sebelum terjun hingga parasut mengembang. Setelah beberapakali terjun, rasa takut itupun berkkurang, tetapi rasa senang masih cukup kuat sehingga aksipenerjunan masih tetap dilakukan. Emosi takut adalah emosi primer, dan senang adalah emosi sekunder.

           Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam satu rentetan peristiwa terdapat 2 emosi berlawanan, teori ini menganggap otak manusia berfungsi sebagai pemicu emosi. Otaklah yang memelihara keseimbangan dari emosi.
b.   Teori Emosi Motifasi
           Emosi dan motivasi sering dijelaskan secara bersamaan atau seiring di dalam literatur karena kaitan antar keduanya memang sangat erat. Bahkan, salah satu teori emosi menempatkan emosi sebagai rangkaian dari motivasi. Emosi dan motif adalah sama, dalam arti emosi merupakan bagian dari motif-motif (doronga-dorongan). Pakar psikologi yang berpendapat seperti ini adalah R.W. Leeper. Untuk menunjukkan hal tersebut, ia merujuk pada peran proses kognitif dalam emosi dan motif, dan tidak dianggap kognisi dan emosi sebagai hal yang dikotomis. S.S. Tomkins mengemukakan bahwa emosi merupakan energi bagi dorongan-dorongan yang selalu muncul bersama. Ketika seorang anak merasa takut bencana kebakaran yang telah merembet ke rumah tetangganya, ia terdorong untuk lari menyelamatkan diri sambil menjinjing sebuah pesawat televisi keluar rumah dengan enteng saat itu. Jadi, menurut teori ini, emosi yang dirasakan akan memperkuat tambahan energi pada motivasi tingkah laku.

           Menurut pendapat kelompok kami  Emosi merupakan bagian dari motif-motif (doronga-dorongan), emosi yang dirasakan akan memperkuat tambahan energy pada motivasi tingkah laku.
c.    Teori Kognitif- Penilaian
           Teori Kognitif-Penilaian adalah teori emosi yang berbasis pada teori Kognitif seperti pada teori Schachhter-Singer. Bedannya hanya terletak pada penekanannya. Teori Schachter-Singer lebih menekankan pada kognisi, sedangkan teori ini lebih menekankan pada hasil penilaian atau evaluasi terhadap informasiyang datang dari situasi lingkungan yang terjadipada saat itu dan penilaian dari diri sendiri. Tokoh yang mengembangkan teori ini adalah Richard S. Lazarus.

           Dapat disimpulkan bahwa Teori Kognitif-Penilaian adalah teori emosi yang berbasis pada teori Kognitif seperti pada teori Schachhter-Singer tetapi lebih menekankan pada hasil penilaian atau evaluasi terhadap informasi yang diterima. Karena pengalaman menunjukkan bahwa penilaian tidak selamanya benar atau keliru.
d.   Teori Tiga Dimensi
           Teori ini diperkenalkan oleh pendiri psikologi, Wilhelm Wundt di dalam bukunya Grundiriss der psychologie pada tahun 1896. Wundt menjelaskan bahwa terdapat tiga pasang kutub perasaan yang masing-masimg adalah: lust-unlust (senang-tidak senang), spannung-losung (tegang-tidak tegang) Erregung- beruhigung (semangat- tenang). Teori ini menjelaskan bahwa setiap emosi yang dialami manusia mempunyai tiga dimensi yang bergerak pada salah satu kutub yang berlawanan. Jika seseorang takut pada ular, maka emosi yang muncul adalah unlust, spannung, dan erregung. Seorang ibu yang sembahyang tahajjud di malam hari, maka emosi yang mungkin menyertainya adaah lust, losung, beruhigung. Demikian seterusnya terjadi pada setiap emosi yang dirasakan, yaitu selalu muncul tiga dimensi dari dua kutub yang berlawanan.
           Merujuk Teori diatas dapat disimpulkan bahwa emosi yang dialami manusia mempunyai tiga dimensi yang bergerak pada salah satu kutup yang berlawanan. Terdapat tiga pasang kutup perasaan yang masing- masing adalah: lust-unlust (senang- tidak senang), spanung- losung (senang- tidak senang), spanung- losung (tegang-tidak tegang), erregung- beruhigung (semangat- tenang)
           Berdasarkan pendapat diatas dapat kami simpulkan bahwa Emosi adalah sesuatu yang dapat kita rasakan tetapi sangat sulit untuk didefinikan. Para pakar ahli pisiologi berupaya mendefinisikan dari teori- teorinya. Beberapa diantaranya yang dibahas ialah teori James- Lange, teori Cannon- Bard, teori Schachter- Singer, teori- teori lain (teori proses- berlawanan, teori emosi- motifasi, teori kognitif, teori tiga dimensi).
     Teori James- Lange mengatakan emosi adalah hasil persepsi sesseorang terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh sebagai respon terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari luar. Teori James- Lange menganggap perubahan fisiologis terjadi terlebih dahulu sebelum emosi, hal ini bertentangan dengan teori Cannon-Bard yang menganggapnya secara bersamaan atau emosi lebih dulu disusun perubahan fisiologis.
     Kedua pendapat ini tidak ada yang salah karena keduanya bisa terjadi. Kelemahan dari kedua teori ini tidak bisa menentukan jenis dari emosi yang dialami. Teori Shachter-Singer meyakini bahwa emosi merupakan fungsi interaksi antara faktor kognitif dan keadaan keterbangkitan fisiologis. Factor kepercayaan seseorang tentsng sesuatu yang didapatkan dari proses berpikir tentang seseorang atau sesuatu. Faktor kognisi tersebut sebagai pengalaman yang tersimpan dalam memori ingatan, sehingga tidak menutup kemungkinan akan muncul kembali ketika dihadapkan masalah yang sama.
     Teori Proses Berlawanan berpendapat dalam satu rentetan peristiwa terdapat 2 emosi berlawanan, teori ini menganggap otak manusia berfungsi sebagai pemicu emosi. Teori emosi-motifasi menganggap emosi merupakan bagian dari motif-motif (doronga-dorongan), teori kognitif penilaian berbasis pada teori Kognitif yang menekankan pada hasil penilaian. Sedangkan teori tiga dimensi menjelaskan emosi yang dialami manusia mempunyai tiga dimensi yang bergerak pada salah satu kutup yang berlawanan.
2.3 Ciri-Ciri Emosi dan Gejala Fisik
2.3.1 ciri-ciri emosi
         Ciri-ciri emosi menurut syamsu yusuf (2002)dalam http://www.s-idolaku-blogspot.com/2012/04/makalah-emosi .httml
1.            Lebih bersifat subjektif dari pada peristiwa sikologi lainnya seperti pengamatan dan           berfikir
2.            Bersifat fluktuatif atau tidak tetap
3.            Banyak bersangkut paud dengan peristiwa pengenalan panca indra dan subyektif.
Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa ciri emosi mempunyai sifat subyaktik, selalu berubah-ubah dan selalu berkesinambungan.
         Menurut abdul rahman shaleh (2003:160) ciri- ciri emosi yaitu:
1. Perasaan tidak dapat berdiri sendiri
Perasaan selalu bersangkutan dengan gejala-gejala jiwa lainnya, misalnya mengamati sesuatu, memikirkan sesuatu, teringan sesuatu, berfantasi.
2. Perasaan selamanya bersifat perseorangan
Perasaan dapat diselidiki dengan menggunakan metode ekstiopeksi, yaitu mengamati tingkah laku lahir seseorang. Tetapi, metode ini tidak datang dipakai kepada orang dewasa, karena orang dewasa selalu dapat menguasai dirinya. Kemudian perasaan dapat pula diselidiki dengan menggunakan intropeksi. Perbedaan antara perasaan dan emosi tidak dapat dinyatakan dengan tegas, karena keduanya merupakansuatu kelangsungan kualitas dengan jelas batasnya. Pada suatu saat tertentu, suatu warna efektif dapat dikatakan sebagai perasaan, tetapi dapat juga dikatakan sebagai emosi, oleh karena itu yang dimaksud dengan emosi disini bukan terbatas pada emosi atau perasaan saja, tetapi meliputi setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai dengan warna efektif, baik pada tingkat yang lemah maupun dalam tingkat yang kuat (mendalam).
Menurut pendapat diatas bahwa ciri emosi ada dua, perasaan tidak dapat berdiri sendiri yaitu bersangkutan dengan gejala-gejala jiwa yang lain seperti teringan sesuatu, perasaan selamanya bersifat perseorangan yaitu perasaan dapat diselidiki dengan menggunakan metode ekstiopeksi yaitu mengamati tingkah laku lahir sesorang.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan oleh kelompok kami bahwa ciri emosi selalu berubah-ubah, bersifat perseorangan, namun tidak dapat berdiri sendiri.
2.3.2 Gejala fisik
              Emosi dan gejala fisik menrut abdul rahman shaleh (2013:161-163)seperti telah dikemukakan diatas perasaan merupakan di atas perasaaan merupakan suatu keadaan dari individu dari suatu waktu sebagai akibat dari stimulus yang mengenainya. Kalau keadaan tlah begitu melampaui batas hingga untuk mengadakan hubungan dengan sekitarnya mungkin terganggu, hal ini akan menyangkut soal emosi. Dalam emosi prbadi seseorang telah demikian dipengaruhi hingga individu pada umumnya kurang dapat atau tidak dapat menguasai diri lagi. Tingkah laku perbuatannya tidak lagi memperlihatkan suatu norma yang ada dalam hidup bersama, teruji telah memperlihatkan adanya gangguan atau hambatan dalam diri individu. Seseorang yang mengalami emosi sering tidak lagi memperhatikan keadaan sekitarnya sesuatu keaktifan tidak dikerjakan oleh oleh individu pada keadaan normal, kemungkinan akan dikerjakan pada saat individu pada keadaan emosi. Dengan deikian, maka emosi dipandang sebagai perasaan yang grundal lebih besar kekuatannya.
              Maka pesikologi sebagai suatu ilmu pengatahuan pengkhususkan diri untuk menyelidiki atau mempelajari dan menerangkan kegiatan-kegiatan psikis atau mempelajari dan menerangkan kegiatan-kegiatan psikis atau gejala-gejala kejiwaan yang umumnya terdapat pada manusia-manusia yang normal. Pada setiap individu yang normal umumnya memiliki gejala-gejala kejiwaan atau pernyataan-pernyataan jiwa yang secara garis besarnya dalam psikologi umum dibagi menjadi empat bagian sebagai berikut :
1.      Gejala pengenalan (koognisi) yang termasuk kegiatan psikis pengenalan/koognisi ini      adalah gejala-gejala jiwa seperti pengamatan, tanggapan, ingatan, isosiasi, fantasi, berfikir dan intelegensi.
2.      Gejala jiwa perasaan (emosi): begot, dkk mengenai gejala jiwa perasaan inimenjadi dua             bagian, yaitu perasaan-perasaan rendah (jasmaniah) dan perasaan luruh (rohaniah)    perasaan-perasaan jasmaniah adalah seperti:perasaan pengindraan, dan perasaan vital.        Sedangkan perasaan rohaniah seperti perasaan keindahan, perasaan sosialm perasaan ketuhanan, perasaan kesusilaan, perasaan diri dan perasaan intelektual.
3.      Gejala jiwa kehendak (konasi): gejala kehendak ini ada dua macam yaitu gejala kehendak         yang indra dan gejala kehendak yang rohaniyah. Gejala kehendak indra seperti tropisme,          refleks, insting, atau automsitisme, nafsu, kebiasaan, keinginan dan kecnderungan.           Semua gejala kehendak diatas tidak dipengaruhi oleh pikiran, dan gejala kehendak yang   rohaniah yaitu kemauan.
      Gejala campuran adalah minat dan perhatian, kelelahan dan susesti.
      Pembagian gejaa-gejala kejiwaan seperti ini banyak di populerkan oleh psikolog guna memudahkan orang dalam mempelajari gejala-gejala kejiwaan pada manusia yang normal, karena setiap individu manusia yang normal dan berbudaya dimana pun berada pada dirinya terdapat keempat gejala –gejala tersebut baik gejala pengenalan gejala kehandak,dan gejala-gejala campuran seperti yang telah disebutkan diatas.
      Seperti yang telah dikemukakan diatas dapat kami tarik kesimpulan bahwa emosi, tingkah lku perbuatan tidak lagi memperlihakan sesuatu norma yang ada dlam hidup bersama, teruji telah memperlihatkan adanya gangguan atau hambatan dalam diri individu
      Pengaruh emosi terhadap perilaku individu (menurut syamsu yusuf:2008, 115)dalam http://www.s-idolaku-blongspot,com/2012/04/makalh-emosi.html, merupakan warna efektif yang menyertai sikap keadaan atau perilaku individu. Yang dimaksud dengan warna efektif adalah perasaan tertentu yang dialami pada saat menghadapi (menghayati) suatu situasi tertentu. Contihnya gembira, bahagia,putus asa, terkejut, banci, dan sebagainya. Dibawah ini ada beberapa contoh tentang pengaruh emosi terhadap perilaku individu diantaranya sebagai berikut:
1.      Memperkuat semangat, apabila orang merasa senang atau puas atas hasil yang telah dicapainya.
2.      Melemahkan semangat, apabila timbul rasa kecewa karena kegagalan dan sebagai puncak dari keadaan ini timbulnya rasa putus asa (frustasi),
3.      Menghambat atau mengganggu konsentrasi belajar, apabiala sedang mengalami ketegangan emosi dan bisa juga menimbulkan sikap gugup (nervous) dan gugup dalam bicara.
4.      Terganggu penyesuaian sosial, apabila terjadi rasa cemburu dan iri hati,
5.      Suasana emosional yang diterima dan dialami individu semasa kecilnya akan mempengaruhi sikapnya dikemudian hari, baik terhadap dirinya maupun terhadap orang lain.
              Sedangkan perubahan emosi terhadap perubahan fisik (jasmani) individu dapat dijelaskan dengan gambaran sebagai berikut:
   Cnon telah mengadakan penelitian dengan sorotan sinar “rontgen” terhadap seekor kucing yang baru selesai makan. Ia melihat bahwa perut besarnya aktif melakukan gerakan yang teratur untuk mencerna makanan. Kemudian dibawa kedepannya seekor anjing yang besar dan buas. Pada saat itu, canon melihat bahwa proses pencernaan berhenti seketika, dan dibagian pembuluh darah bagian lambung mengkerut, disamping itu tekanan darahnya bertambah dengan sangat tinggi, ditambah lagi dengan perubahan yang bermacam-macam pada kelenjar-kelenjar seperti bertambahnya dan kekurangan air liur.
              Berdasarkan data tersebut pengaruh emosi terhadap perilaku dan perubahan fisik individu yaitu (warna efektif yang menyertai sikap keadaan atau perilaku individu) sebagai contoh gembira, bahagia. Pengaruh emosi ada lima yaitu memperkuat semangat, melemahkan semangat, mengganggu konsentrasi belajar, terganggu penyesuaian sosial, suasana emosional yang diterima individu semasa kecil akan mempengaruhi sikapnya dikemudian hari.
              Menurut kelompok kami berdasarkan pendapat diatas dalam emosi, tingkah laku perbuatan tidak lagi memperlihatkan sesuatu norma yang ada dalam hidup bersama, teruji telah memperlihatkan adanya gangguan/hambatan dalam diri individu. Emosi terhadap perilaku dan perubahan individu diantaranya memperkuat semangat, melemahkan semangat, mengganggu konsentarasi belajar, terganggu penyesuaian sosial, suasana emosional yang diterima individu semasa kecilnya akan mempengaruhi sikapnya dikemudian hari.
2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi
            Menurut Sunarto dan B.Agung Hartono (1994:76-78) faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi yaitu:
1.      Perubahan jasmani atau fisik
            Perubahan atau pertumbuhan yang berlangsung cepat selama mas apuber menyebabkan keadaan tubuh menjadi tidak seimbang. Ketidakseimbangan ini mempengaruhi kondisi psikis remaja. Tidak setiap remaja dapat segera menerima perubahan yang dialami, karena tidak semuanya menguntungkan. Terutama jika perubahan tersebut mempengaruhi penampilannya, misalnya kulit menjadi kasar dan berjerawat. Hormon-hormon tertentu mulai bekerja sejalan dengan perkembangan alat kelaminya. Hal ini menyebabkan rangsangan di dalam tubuh remaja yang sering kali menimbulkan masalah dalam perkebangan psikisnya, khususnya perkembangan emosinya.
2.      Perubahan dalam hubungan orang tua
            Sikap orang tua dalam mendidik anaknya yang beranjak remaja dengan cara yang menurut apa yang dianggap baik oleh orang tua, misalnya secara otoriter, penerapan disiplin yang terlalu kaku, terlalu mengekang, dapat menimbulkan ketegangan antara orang tua dan anak, yang akan mempengaruhi perkembangan emosinya. Demikian pula cara memberi hukuman yang tidak sesuai, misalnya memberi hukuman fisik tampaknya sudah tidak sesuai lagi abgi remaja, jika penerapan hukuman dilakukan denagn cara yang tidak bijaksana dapat menyebabkan ketegangan yang lebih berat bahkan mungkin remaja akan berani melakukan pemberontakan, karena pada dasarnya ada kecenderungan remaja untuk melepas diri dari orang tua. Adanya ketidakharmonisan antara hubungan orang tua dengan anak, tidak adanya saling pengertian diantaranya sangat berpengaruh terhadap perkembangan emosi remaja.
3.      Perubahan dalam hubungan dengan teman-teman
            Pada masa anak biasanya individu membentuk gang dari teman sejenis untuk melakukan aktivitas bersama. Pada awal remaja mereka membentuk geng yang biasanya bertujuan positif untuk memenuhi minat bersama mereka,namun jika di teruskan pada masa remaja tengah atau remaja akhir para anggota mungkin membutuhkanya untuk melawan otoritas atau untuk melakukan hal yang tidak baik. Yang paling sering mendatangkan masalah adalah hubungan cinta dengan lawan jenis pada usia remaja biasanya seseorang mulai jatuh cinta dengan teman atau kenalanya gejala ini biasa bagi remaja, namun kadang kala menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya cinta yang tidak terbalas atau putus cinta sehingga mengganggu perkembangan emosi remaja. Percintaan dikalangan remaja juga terkadang menimbulkan konflik dengan orang tua, karena ada kekhawatiran dari pihak orang tua kalau terjadi hal-hal yang di luar batas sehingga mereka melarang anaknya pacaran.
4.      Perubahan dalam hubungan dengan sekolah
            Menginjak remaja mungkin mereka mulai menyadari pentingnya pendidikan untuk kehidupan dimasa mendatang. Hal ini sedikit banyak dapat menyebabkan kecemasan sendiri bagi remaja. Lebih lanjut berkaitan dengan apa yang dilakukan setelah lulus, bagaimana prospek untuk mendapatkan pekerjaan, dan ketakutan memasuki dunia kerja bisa menambah ketegangan dan kecemasan remaja.
5.      Perubahan atau penyesuaian dengan lingkungan baru:
1)      perubahan yang radikal yang dialami remaja dari masa anak ke masa dewasa menyebabkan perubahan terhadap pola kehidupannya. Bila mereka tidak dipersiapkan dengan peran barunya mereka mengalami kesulitan dan timbul perasaan tidak mampu.
2)       Adanya harapan sosial untuk perilaku yang lebih matang.ketika seseorang memasuki masa remaja, ia mulai kelihatan seperti orang dewasa. Sehubungan denagn hal itu mereka juga diharapkan menyesuaikan diri untuk bertindak dewasa. Tekanan-tekanan sosial semacam ini sering kali menyebabkan mereka merasa cemas.
3)       Aspirasi yang tidak realistik. Aspirasi pada semasa anak biasanya tidak realistik. Jika remaja gagal mencapai aspirasi mereka, akan menyebabkan perasaan tidak mampu dan jika mereka memproyeksikan kegagalannya kepada orang lain, maka akan menambah perasaan tidak mampunya. (Harlock, 1973:47)

              Berdasarkan pendapat Sunarto dan Agung Hartono penulis dapat menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi diantaranya adalah perubahan jasmani yang ditunjukkan dengan adanya perubahan yang sangat cepat dari anggota tubuh, pola interaksi dengan orang tua yang disebabkan pola asuh orang tua terhadap anaknya, perubahan interaksi dengan teman sebaya ditunjukkan dengan pembentukan geng-geng, perubahan interaksi dengan sekolah karena remaja mulai menyadari pentingnya pendidikan di masa depan serta perubahan dengan lingkungan baru yang dapat menyebabkan konflik-konflik emosional dalam diri remaja.

              Hurlock, 1980 (dalam Sunarto,2008 dalam http://www.sidolaku.blogspot.com/2012/04/makalah-emosi.html)  mengemukakan bahwa perkembangan emosi remaja bergantung pada faktor kematangan dan faktor belajar. Sunarto (2008) mengemukakan bahwa kegiatan belajar turut mengundang perkembangan emosi. Metode belajar yang dapat menunjang perkembangan emosi antara lain:
1)      Belajar dengan coba-coba.
2)      Belajar dengan cara meniru
3)      Belajar dengan cara mempersamakan diri (learning by identification)
4)      Belajar melalui pengkondisian
5)      Pelatihan atau belajar di bawah bimbingan dan pengawasan.

              Dari uraian Hurlock di atas penulis dapat menganalisis bahwa perkembangan emosi bergantung pada faktor kematangan dan faktor belajar yang dapat menunjang perkembangan emosi. Metode belajar dapat dilakukan dengan cara belajar dengan coba-coba, meniru orang lain, mempersamakan diri kita dengan orang lain, pengkondisian diri kita, serta adanya pengawasan dalam proses belajar tersebut.

              Hurlock 1980 dan Cole 1963 (dalam Elida Prayitno, 2006) menyatakan beberapa penyebab yang sering menimbulkan emosi negatif yaitu :
1)         Memperlakukan remaja sebagai anak kecil, sehingga mereka merasa harga dirinya                         dilecehkan.
2)         Dihalangi membina keakraban dengan lawan jenis.
3)         Terlalu sering disalahkan atau dikritik
4)         Merasa diperlakukan secara tidak adil
5)         Merasa kebutuhan mereka tidak dipenuhi oleh orang tua.
6)         Diperlakukan secara otoriter, seperti dituntut harus patuh, lebih banyak dicela,                              dihukum dan dihina.( http://www.s-idolaku.blogspot.com/2012/04/makalah-                                    emosi.html)

              Pendapat hutlock dan Cole diatas dapat diambil kesimpulan bahwa perkembangan emosi yang tidak dapat dikendalikan atau diawasi  oleh ortang tua dapat menimbulkan emosi negatif yang dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah diperlakukan sebagai anak kecil, tidak boleh akrab dengan lawan jenis, selalu diperlakukan secara tidak adil, kebutuhannya tidak dipenuhi, serta dipewrlakukan secara otoriter.

  Sesuai uraian pendapat-pendapat di atas dapat diambil kesimbulan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosional diantaranya adalah perubahan jasmani, perubahan pola interaksi denga orang tua, perubahan interaksi dengan teman sebaya perubahan interaksi dengan sekolah dan perubahan interaksi denga lingungan baru. Faktor lain yang dapat mempengaruhi perkebangan emosional adalah faktor kematangan dan faktor belajar. Di dalam faktor belajar terdapat metode-metode belajar yang dapat dilakukan dengan cara belajar denagn coba-coba, meniru orang lain, mempersamakan diri kita denga orang lain, pengkondisian diri kita dan dengan adanya pengawasan dalam proses belajar tersebut. Perkembangan emosi yang tidak dapat dikendalikan atau diawasi oleh orang tua dapat menimbulkan emosi negatif yang dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya memperlakukannya seperti anak kecil, tidak boleh akrab dengan lawan jenis, selalu disalahkan, diperlakukan secara tidak adil, kebutuhannya tidak terpenuhi serta dilakukan secara otoriter.









2.5  Kapan Emosi Terjadi

Menurut Ekman,Paul 2013 (46-63) mengatakan bahwa Emosi datang dan pergi. Kita merasakan sebuah emosi pada satu peristiwa dan mungkin tidak merasakan emosi pada peristiwa yang lain. Sedikit ilmuwan yang mengklaim bahwa selalu ada beberapa emosi yang  terjadi, tapi emosi itu terlalu kecil untuk kita perhatikan, atau mempengaruhi apa yang kita lakukan. Saya pikir kita mungkin hanya akan berkata bahwa emosi itu ada waktu ketika kita tidak mengalami emosi .( secara insidental, mereka yang berfikir kita selalu merasakan beberapa emosi akan mengakui bahwa itu bukanlah selalu emosi yang sama. Jadi,  mereka juga mengkonfronasikan masalah dengan menerangkan mengapa kita merasakan satu emosi pada sau peristiwa danemosi yang lain pada peristiwa yang lain.
TidaK setiap detik dari kehidupankita itu emosional, sehingga pertanyaannya : mengapa kita menjadi emosi ketika kita melakukan sesuatu? Cara paling umum yang didalamnya emosi terjadi ketika  kita merasakan, dengan benar atau salah , bahwa sesuatu yang serius yang telah mempengaruhi kesejahteraan kita, baik itu yang lebih baik maupun yang lebih buruk, itu tengah terjadi atau baru saja hendak terjadi. Ini bukan hanya rute untuk menjadi emosional, tapi yang sangat penting ini mungkin menjadi rute pusat atau inti untuk menjadi emosional sehingga biarkan kita fous padanya.
Contoh kapan kia menjadi emosi, ketika bahaya berlalu, anda masih merasa takut dalam diri anda. Akan berlangsung sepuluh hingga lima belas detik  bagi sensasi-sensasi tersebut untuk meredakan diri, dan tidak akan ada banyak yang bisa anda lakukan untuk memotong  waktu meradakan sensasi ersebut. Emosi-emosi menghasilkan perubahan  pada bagian-bagian otak kita, yang memobilisasi kita untuk menghadapi apa yang melepaskan emosi, dan juga perubahan dalam sistem saraf otonmis kita, yang mengatur detak jantung napas, keringat, dan banyak perubahan badaniyah kita yang lain, yang mempersiapkan aksi-aksi berbeda.emosi juga mengeluarkan sinyal-sinyal, mengubah ekspresi kita, serta wajah, suara,dan postur  tubuh kita.          
Hampir setiap orang yang meneliti emosi ini setuju dengan apa yang telah saya gambarkan selama ini : pertama, bahwa emosi adalah reaksi terhadap masalah yang tampak menjadi sangat penting bagi kesejahteraan kita. Dan kedua, bahwa emosi seringkali bermula dengan sangat cepat yang tidak kita sadari prosesnya dalam pikiran kita saat emosi itu keluar. penelitian tentang otak juga   konsisten dengan apa yang telah saya tunjukan selama ini.  Kita bisa menduga tentang peristiwa apa yang membuat penilai otomatis kita menjadi sensitif terhadap pengujian ketika emosi itu terjadi.  Kebanyakan dari apa yang kita ketahui bukan berasal dari penelitian kapan orang mengalami  satu emosi atau emosi yang lain. Filosofof Petter Goldie dalam bukunya menyebut hal ini dengan  jenis informasi post-rasionalisasi.
Mantan mahasiswa saya,psikolog Jerry Boucher, mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti itu pada orang di Malaysia dan Amerika Serikat pada tahun 1970-an. Beberapa tahun kemudian, kolega saya psikolog Klaus Scherer , dan kolaboratornya, melakukan penelitian serupa pada mahasiswa di delapan budaya Barat. Mereka menemukan bukti tentang yang  universal-jenis pemicu yang sama yang dilaporkan bisa menimbulkan emosi yang sama pada budaya yang sangat berbeda.  Mereka juga menemukan bukti tentang perbedaan budaya pada peristiwa-peristiwa khusus yang juga membangkitkan emosi. Misalnya, dalam setiap budaya, kehilangan sesuatu yang penting akan memicu rasa sedih. Tapi yang pasti, sesuatu yang hilang itu dikatakan berbeda-beda bentuk dan macamnya dari satu budaya ke budaya yang lain.
Di sepanjang kehidupan, kita menghadapi  banyak peristiwa khusus yang kita belajar untuk menerjemahkannya dalam suatu cara yang bisa membuat kita merasa takut, marah, benci, sedih, terkejut, atau senang, dan ini  ditambahkan pada peristiwa-peristiwa universal yang mendahului dan memperluas tentang apa yang penilai otomatis harus siapkan. Ketika saya meneliti masyarakat pada budaya zaman Batu di New Guinea pada akhir tahun 1960-an,saya menemukan bahwa mereka taku diserang babiliar. Pada orang  Amerika Urban, orang lebih takut lagi diserang  oleh perampok, dan kedua kasus tersebut  mempresentasikan sebuah emosi .
Saya meakini bahwa salah satu karakteristik emosi yang paling khusus adalah bahwa peristiwa-peristiwa yang memicu emosi itu dipengaruhi bukan hanya oleh pengalaman individu kita, tapi juga dengan peristiwa masa lalu yang dialami nenek moyang kita. Emosi-emosi , dalam frasa Richard Lazarus, adalah frasa yang sangat tepat, yang merefleksikan “ kebijaksanaan zaman”, baik dalam tema emosi maupun dalam respon emosi. Penilai otomatis pun mengamati segala apa yang penting bagi keberlangsungan hidup kita yang tidak hanya dalam kehidupan indvidu kita.
Saya telah menggambarkan sembilan jalan untuk memasuki  atau keluar dari emosi-emosi kita. Jalan pertama yang paling umum adalah melalui penggunaan penilai otomatis,  yakni mekanisme penilaian otomatis. Jalan kedua bermula pada penilaian reflektif yang kemudian berhasil dalam penilai otomatis. sedangakn memori  pada pengalaman emosional masa lalu adalahjalan ketiga, dan imajinasi adalah jalan keempat. Berbicara tentang peristiwa emosional masa lalu adalah jalan kelima. Empati menjadi jalan keenam. Sedang, orang lain yang menginstruksikan kita tentang  apa yang emosional maksudkan menjadi jalan ketujuh. Kekerasan norma sosial menjadi jalan kedelapan. Sedangkan yang terakhir  adalah mengambil penampakan emosi.

Merujuk pendapat diatas kita merasakan sebuah emosi pada satu peristiwa dan mungkin tidak merasakan emosi pada peristiwa lain. Emosi terjadi ketika bahaya berlalu, rasa takut itu muncul dan akan berlangsung sepuluh hingga lima belas detik bagi sensasi-sensasi tersebut untuk meredakan diri. Orang meneliti emosi meggambarkan pertama : emosi adalah reaksi terhadap masalah yang tampak menjadi sangat penting bagi kesejahteraan kita. Dan kedua, bahwa emosi seringkali bermula dengan sangat cepat yang tidak kita sadari prosesnya dalam pikiran kita saat emosi itu keluar. Peristiwa emosi ada 2 yaitu : peniali otomatis dan penilai reflektif. Penilai otomatis muncul secara otomatis tanpa kita sadari prosesnya dalam pikiran kita. Contoh ketika kita naik kendaraan dan akan menabrak sesuatu kita pasti secara spontan akan merasa takut. Kemudian penilai reflektif, emosi muncul dengan kita sadaridan setelah kita pikir dahulu. Contoh ketika ditempat kerja kita akan ada pengeluaran pegawai dan terpikirkan oleh kita apakah kita termasuk orang yang akan di PHK, dan pada saat itu kita merasa takut.
Menurut http://www.septanatana.blogspot.com/2013/03/emosi.html
Hidup tanpa emosi akan terasa membosankan. Pernahkah Anda membayangkan jika dalam kehidupan tidak ada kebahagiaan, kesedihan, kemarahan, harapan, kebencian, kecemburuan, maka segala sesuatu dalam hidup akan tampak datar dan terasa hambar. Tidak akan ada banyak variasi gerakan, dan kita pun akan mendapat kesulitan menginterpretasikan perilaku orang lain. Tentu saja hal itu akan membawa akibat terhadap interaksi sosial. Untung saja manusia mempunyai keadaan emosi dan berusaha mempertahankan keadaan yang menyenangkan serta menghindari atau menghentikan keadaan yang tidak menyenangkan. Keadaan emosi itu kemudian muncul dalam bentuk perilaku yang kemudian dapat diamati oleh orang lain. Dalam konteks psikologi, kita perlu membedakan feeling (perasaan) dari emosi yang dalam penggunaan bahasa sehari-hari sering dicampuradukkan. Keadaan yang menyenangkan ataupun yang tidak menyenangkan yang sering mengiringi banyak kegiatan kita adalah keadaan perasaan yang ringan. Misalnya minum es jus di hari yang panas sangat menyenangkan, sebaliknya menunggu pesanan makanan selama 1 jam atau lebih merupakan hal yang tidak menyenangkan. Hal yang menyenangkan atau tidak menyenangkan yang kita bicarakan ini kita sebut warna afek. Keadaan afektif yang ringan disebut feelings (perasaan). Istilah emosi sendiri menunjukkan keadaan terangsang dan lebih jelas, luas, seperti misalnya kata-kata kesedihan, kemarahan, teror.
Menurut, Kamus Behavioral Science feelings diartikan sebagai: 1) penjelasan subjektif tentang kesadaran akan keadaan-keadaan tubuh (neural) yang tidak tergantung dari kejadian-kejadian dalam leingkungan individu; 2) tactile sensation; 3) menyadari sesuatu, misalnya perasaan bahwa kita diterima lingkungan; 4) emosi, misalnya bahagia, sedih, marah dan sebagainya. Emosi diartikan sebagai suatu reaksi yang kompleks yang terdiri dari perubahan fisiologis dari keadaan seimbang yang secara subyektif dialami sebagai feeling dan dimanifestasikan dalam perubahan-perubahan tubuh dan dapat dinyatakan dalam tindakan overt.
Kebanyakan psikolog mengelompokkan emosi ke dalam keadaan yang menyenangkan (pleasant) dan yang tidak menyenangkan (unpleasant). Keadaan yang menyenangkan, misalnya kebahagiaan, cinta, kegembiraan dan keadaan yang tidak menyenangkan seperti kesedihan, kemarahan. Klasifikasi ini cenderung mengatakan pentingnya kesenangan dan ketidaksenangan, penerimaan dan penolakan, pendekatan dan penghindaran sebagai dasar emosi. Selain klasifikasi keadaan menyenangkan dan tidak menyenangkan, ada juga istilah emosional yang menyatakan intensitas pengalaman. Perbedaan dalam intensitas ditunjukkan oleh kata-kata yang berpasangan seperti : anger-range, fear-horror, pain-agony, sadness-grief.

Menurut pendapat saya Keadaan emosi itu kemudian muncul dalam bentuk perilaku yang kemudian dapat diamati oleh orang lain. Dalam konteks psikologi, kita perlu membedakan feeling (perasaan) dari emosi yang dalam penggunaan bahasa sehari-hari sering dicampuradukkan. Keadaan yang menyenangkan ataupun yang tidak menyenangkan yang sering mengiringi banyak kegiatan kita adalah keadaan perasaan yang ringan.

Kesimpulan dari kedua pendapat tersebut adalah kita merasakan sebuah emosi pada satu peristiwa dan mungkin tidak merasakan emosi pada peristiwa lain. Emosi terjadi ketika bahaya berlalu, rasa takut itu muncul dan akan berlangsung sepuluh hingga lima belas detik bagi sensasi-sensasi tersebut untuk meredakan diri. Keadaan emosi itu kemudian muncul dalam bentuk perilaku yang kemudian dapat diamati oleh orang lain. Dalam konteks psikologi, kita perlu membedakan feeling (perasaan) dari emosi yang dalam penggunaan bahasa sehari-hari sering dicampuradukkan. Keadaan yang menyenangkan ataupun yang tidak menyenangkan yang sering mengiringi banyak kegiatan kita adalah keadaan perasaan yang ringan.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
      Emosi adalah kondisi perasaan yang berpengaruh terhadap perilaku, perasaan, dan fungsi vitalnya. Emosi atau perasaan dapat berfungsi sebagai pengontrol perasaan manusia dari kemungkinannya terjadi ketegasan kejiwaan atau sebaliknya. Dalam perkembangannya emosi dapat menimbulkan gejala- gejala fisik serta ciri keadaan pada saat seseorang mengalami emosi.
      Disamping itu emosi juga dapat dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya ada faktor pematangan dan faktor belajar.  Faktor belajar dapat mempengaruhi perkembangan emosi yang dapat dilakukan dengan beberapa cara.Apabila dalam perkembangan emosi tidak diawasi dengan baik oleh orang tua maka dapat menimbulkan emosi- emosi negatif. Emosi dapat datang dan pergi ,itu menunjukan bahwa emosi muncul setiap saat. Penilaian emosi ada 2 yaitu penilai otomatis dan  penilai reflektif. Peniali otomatis muncul secara spontan tanpa kita sadari sedangkan penilai reflektif muncul dengan kita sadari terlebih dahulu.
      Emosi sering kita rasakan pada kehidupan sehari-hari,tetapi sulit untuk kita definisikan. Muncullah  teori- teori yang membahas tenteng emosi, beberapa diantaranya teori James Lange, Teori Cannon Bard, Teori Schahter Singer, Teori proses berlawanan, Teori emosi motifasi, Teori kognitif  penilaian, dan Teori tiga dimensi.
     
3.2 Saran
3.2.1 Remaja         :  dengan mengetahui keadaan emosi dan perkembangan emosi Kita                                 mampu memahami dan menemukan cara-cara yang terbaik dalam                                        menghadapi diri kita sendiri.
3.2.2 Orang Tua    : apabila Orang tua telah mengetahui keadaan emosi dan perkembang                              an emosi anaknya diharapkan mampu mengawasi pola tingkah laku                                     anaknya.
3.2.3 Pendidik       :  setelah pendidik mengetahui keadaan emosi dan perkembangan                                     emosi peserta didiknya diharapkan dapat mengetahui setiap aspek                                       dalam perkembangan emosi peserta didik serta dapat mengatasi                                                  labilnya emosi peserta didik agar proses pembelajaran dapat                                              berjalan dengan baik dan perkembangan peserta didik berjalan                                               dengan normal tanpa mengalami gangguan.
3.2.4 Masyarakat   : diharapkan masyarakat peka terhadap keadaan emosi dan                                               perkembangan emosi dikalangan remaja.
3.2.5 Pemerintah   : pemerintah telah mengetahui keadaan emosi dan perkembangan                                    emosi remaja sehingga diharapkan dapat membuat kebijakan yang                                       sesuai dengan kondisi emosi remaja.





















Daftar Pustaka

Hude , M. Darwis . 2006 . Emosi Khasanah kajian al-qur”an . Jakarta : Erlangga.
Shaleh , Abdul Rahman . 2009 . Psikologi Suatu pengantar dalam Perspektif Islam.  Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Sunarto , dkk . 1994 . Perkembangan Peserta Diidik . Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan tinggi Departemaen pendidikan dan kebudayaan.
Paul, Ekman . 2013 . pedoman Membaca Emosi Orang . Jogjakarta : Divapres.
http://www.pengertian ahli.com/2013/11/pengertian-ahli-menurut-para-ahli.html
http://www.smartspsikologi.blogspot.com/2007/11/apakah-fungsi-fungsi-emosi-html
http://www.snackgratis.blogspot.com/2011/02/hrefislam-download.html
http://www.s-idolaku-blogspot.com/2012/04/makalah-emosi .httml
               http://www.s-idolaku-blongspot,com/2012/04/makalh-emosi.html
               http://www.sidolaku.blogspot.com/2012/04/makalah-emosi.html
               http://www.septanatana.blogspot.com/2013/03/emosi.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar