BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada
umumnya, perbuatan kita sehari-hari diserta oleh perasaan-perasaan tertentu
yaitu perasaan senang atau tidak senang. Perasaan senang atau tidak senang yang
selalu menyertai perbuatan kita sehari-hari disebut warna efektif. Warna
efektif ini kadang-kadang kuat,kadang-kadang lemah atau samar-samar saja. Dalam
warna efektif yang kuat maka perasaan-perasaan menjadi lebih mendalam, lebih
luas dan lebih terarah. Perasaa-perasaan seperti ini disebut emosi. Beberapa macam
emosi antara lain gembira, bahagia, semu, terkejut, benci, senang, was-was dan
sebagainya.
Perasaan
dan emosi biasanya disifatkan sebagai suatu keadaan ( state ) dari diri
organisme atau individu pada suatu waktu. Misalnya orang merasa sedih, senang, terharu
dan sebagainya. Perasaan disifatkan sebagai suatu kedaan jiwa sebagai akibat
adanya peristiwa-peristiwa tersebut pada umumnya menimbulkan kegoncangan padaa
individu. Perasaan juga dapat menimbulkan gejala fisik yang terjadi pada diri
seseorang. Gejala fisik tersebut dapat berupa gejala pengenalan, gejala jiwa
perasaan dan perasaan jiwa kehendak.
Disamping itu
juga emosi dapat mengalami perkembangan yang dapat dipengaruhi oleh beberapa
faktor. Faktor- faktor tersebut menimbulkan pola emosi dalam diri seseorang
yang berbeda-beda. apabila orang tua tidak bisa mengawasi dalam perkembangan
emosi anaknya maka dapat menimbulkan emosi negatif. Dalam perkembangan emosi
tersebut dapat kita ketahui kapan emosi-emosi tersebut dapat terjadi.
1.2
Rumusan Masalah
1.2.1 Apa pengertian perkembangan emosi dan
fungsi emosi?
1.2.2
Bagaimana teori-teori emosi?
1.2.3
Bagaimana ciri-ciri emosi dan gejala fisik pada
emosi?
1.2.4
Apa saja faktor-faktor yang mempenagruhi
perkembangan emosi?
1.2.5
Kapan terjadinya emosi?
1.3
Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui dan memahami pengertian
perkembangan emosional dan fungsi emosi.
1.3.2 Untuk mengetahui dan
memahami teori-teori emosi.
1.3.3 Untuk mengetahui dan
memahami ciri emosi dan gejala fisik
1.3.4 Untuk mengetahui dan
memahami faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi
1.3.5 Untuk mengetahui dan
memahami kapn terjadinya emosi
1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat Teoritis
Setelah membaca
makalah ini pembaca mampu menambah wawasan, ilmu dan pengetahuannya tentang
perkembangan emosi sehingga pembaca dapat mengerti dan memahami keadaan emosi
dirinya dan orang di sekitarnya.
1.4.2 Manfaat Praktis
Pembaca telah
memahami dan mengerti isi makalah ini sehingga mampu mengendalikan emosi
dirinya dan merespon ketika orang disetarnya mengalami emosi.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Emosi dan Fungsi Emosi
2.1.1
Pengrtian Emosi
Menurut
Hillman ( 1960 ) dan Drever ( 1952 )
dalam M.Darwis Hude ( 2006,17 ), Emosi adalah bentuk yang kompleks dari
organisme, yang melibatkan perubahaan fisik dari karakter yang luas-dalam
bernafas ,denyut nadi,produk kelenjar dsb. Dapat disimpilkan bahwa emosi adalah
suatu ciri dari suatu organisme yang melibatkan proses kerja orgaan dalam
organisme tersebut. Sejalan dengan pendapat Hillman dan Drever, M.Darwis Hude ( 2006,18)mengatakan
bahwa emosi adalah suatu gejala psiko-fisiologis yang menimbulkan efek pada
persepsi, sikap dan tingkah laku, serta mengejawantahkan dalam bentuk ekspresi.
Berdasarkan pendapat diatas kelompok kami menyimpulkan bahawa emosi adalah
suatu gejala pada seseorang yang dapat berakibat pada sikap dan tingkah laku
terhadap ekspresi tertentu.
Emosi
Menurut George Miller: Emosi
adalah pengalaman seseorang tentang perasaan yang kuat, dan biasanya diiringi
dengan perubahan-perubahan fisik dalam peredaran darah dan pernapasan, biasanya
juga dibarengi dengan tindakan-tindakan pemaksaan. Dalam (http://www.pengertian
ahli.com/2013/11/pengertian-ahli-menurut-para-ahli.html). dapat disimpulkan
bahwa emosi adalah perasaan yang kuat dan biasanya diiringi perubahan fisik
yang terjadi pada peredaran darah dan pernapasan.
Emosi
Menurut Angels: Emosi adalah kondisi perasaan yang kompleks, yang
diiringi dengan beberapa gerakan atau aktivitas kelenjar. Atau, perilaku yang
kompleks yang didominasi oleh aktivitas lambung atau organ-organ intrinsik. Dalam (http://www.pengertian
ahli.com/2013/11/pengertian-ahli-menurut-para-ahli.html). pendapat diatas dapat
disimpulkan bahwa emosi adalah perasaan yang kompleks yang diiringi beberapa
gerakan atau aktivitas organ dalam tubuh.
Emosi Menurut
Dr. Muhammad Najaati dalam (http://www.pengertian
ahli.com/2013/11/pengertian-ahli-menurut-para-ahli.html). Emosi adalah kekacauan hebat yang meliputi
segala aspek individu, dan berpengaruh terhadap perilakunya, perasaannya, dan
fungsi vitalnya. Asalnya dia muncul dari faktor psikologis. Berdasarkan
pendapat diatas,dapat disimpulkan bahwa emosi adalah kondisi perasaan yang
berpengaruh terhadap perilaku, perasaan dan fungsi vitalnya.
Dari berbagai
pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa emosi adalah suatu kondisi perasaan
yang khas yang diiringi dengan perubahan-perubahan fisik dan sktivitas organ
dalam serta berpengaruh terhadap perilaku, perasaan dan fungsi vitalnya.
2.1.2 Fungsi emosi
Menurut Coleman
dan Hammen dalam ( Jalaludin,1989:46-47, dalam M.Darwis Hude ( 2006:24-25 ))
Fungsi emosi dalam kehidupan manusia adalah :
1. Emosi adalah
pembangkit energi (energizer). Tanpa emosi kita tidak sadar atau
mati
2. Emosi adalah
pembawa informasi (messenger)
3. Pembawa pesan
dalam komunikasi intrapersonal dan interpersonal.
4. Sumber informasi tentang keberhasilan yang telah dicapai
Dengan adanya fungsi yang
bermacam-macam itu menunjukan dengan jelas bahawa emosi sangat dibutuhkan dalam
kehidupan.berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa fungsi emosi
sebagai pembangkit energi, sebagai pembawa informasi, pembawa pesan dalam
komunikasi interpersonal serta berfungsi sebagai informasi tentang keberhasilan
yang telah dicapai.
Fungsi emosi menurut Achmad Mendatu
dalam
(http://www.smartspsikologi.blogspot.com/2007/11/apakah-fungsi-fungsi-emosi-html)
ialah :
1. Menimbulkan
respon otomatis sebagai persiapan menghadapi krisis.
2. Menyesuaikan
reaksi dengan kondisi khusus.
3. Memotivasi
tindakan yang ditujukan untuk pencapaian tujuan tertentu.
4. Mengomunikasikan
sebuah niat pada orang lain
5. Meningkatkan
ikatan sosial
6. Mempengaruhi
memori dan evaluasi suatu kejadian
7. Meningkatkan
daya ingat terhadap memori tertentu
Dapat disimpulkan bahwa emosi
berfungsi sebagai pengontrol perrasaan manusa dari kemungkinannya terjadi
ketegangan kejiwaan atau sebaliknya dapat menjaga keseimbangan kimiawi tubuh
manusia.
Sejalan dengan
pendapat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa Emosi merupakan suatu kondisi perasaan yang khas yang diiringi dengan
perubahan-perubahan fisik dan sktivitas organ dalam serta berpengaruh terhadap
perilaku, perasaan dan fungsi vitalnya. Sedangkan fungsi emosi itu sendiri
ialah sebagai pengontrol perrasaan manusa dari kemungkinannya terjadi
ketegangan kejiwaan atau sebaliknya dapat menjaga keseimbangan kimiawi tubuh
manusia.
2.2 Teori-Teori Emosi
1. Teori
James-Lange
James
Lange mengatakan bahwa emosi adalah hasil persepsi sesseorang terhadap
perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh sebagai respon terhadap
rangsangan-rangsangan yang datang dari luar. Teori ini menekankan emosi sebagai
respon dari perubahan faali yang terjadi pada dirinya. Contoh tentang teori ini
sebagai mana yang dijelaskan oleh Atkinson et al. (1981:83) Bila Anda tiba-tiba
terjerembab di tangga, secara otomatis Anda akan berpegang pada pegangan tangga
sebelum Anda sempat menyadari adanya rasa takut. Setelah saat kritis itu
berlalu, emosi Anda akan terasa dengan adanya persepsi terhadap jantun yang
berdebar keras, napas yang terengah-engah, dan perasaan lemas atau gemetar pada
tangan dan kaki. Karena perasaan takut terjadi setelah respon badani, situasi
semacam ini membuat teori ini masuk akal (James Lange diperkuat oleh Atkinson
et al. (1981:83),dalam M.Darwis Huda, 2006:55 )
Menurut
Teori diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Teori James Lange
menempatkan aspek persepsi terhadap respon fisiologis yang terjadi ketika ada
rangsangan datang sebagai pemicu emosi yang dialami oleh manusia. Perubahan-
perubahan fisiologis itu diterjemahkan sebagai emosi.
2. Teori
Cannon-Bard
Teori
Cannon-Bard menjeleskan bahwa perssepsi terhadap obyek yang dapat menimbulkan
emosi diproses secara simultan oleh dua instansi yakni sistem syaraf otonom dan
cerebal cortex. Degup jantung bulu roma berdiri, aau nafas berat terenga-engah
terjadi bersamaan dengan emosi takut. Tidak mungkin terjadi perubahan faali
yang menyebabkan kemunculan emosi sebagaimana deskripsi teori James Lange,
emosi dengan perubahan fisiologis terjadi secara simultan. (dalam M,Darwis Huda, 2006:57)
Dalam teori ini dapat disimpulkan emosi muncul bersama-
sama dengan perubahan fisiologis atau emosi muncul terlebih dahulu kemudian di
susul perubahan fisiologis. Hal ini bertentangan dengan Teori James Lange.
3. Teori
Shachter-Singer
M.
Dawis Hude (2006:59) teori emosi yang menempatkan kognisi pada posisi yang
sangat menentukan dikembangkan oleh Stanley Schachter dan Jerome Singer. Mereka
meyakini bahwa emosi merupakan fungsi interaksi antara faktor kognitif dan
keadaan keterbangkitan fisiologis. Setiap pengalaman yang membangkitkan emosi
akan diberi label di dalam peta kognitif. Label-label itu kemudian dijadikan
pola bagi pengalaman-pengalaman baru. Setiap stimulus yang diterima akan
dinilai berdasarkan label yang telah tersimpan. Teori Schacher-Singer sering
pula disebut two-factor theory of emotion, karena teori ini didasarkan pada dua
hal yang terjadi, yakni perubahan fisologis dan interpetasi kognitif. Alur
teori Schachter-Singer dapat dijelaskan sebagai berikut: Dimulai dari stimulus
yang diterima dari luar kemudian memicu terjadinya perubahan fisiologis dalam
tubuh. Selanjutnya terjadi persepsi dan interpretasi terhadap keterbangkitan
itu pada situasi khusus yang sudah dikenal dari informasi dan pengalaman yang
sudah tersimpan sebelumnya, kemudian terjadilah emosi yang bersifat subyektif.
Dari
Teori Shachter Singer dapat disimpulkan bahwa Emosi merupakan
fungsi interaksi antara faktor kognitif dan keadaan keterbangkitan fisiologis,
dari pengalaman yang membangkitkan emosi akan diberi label di dalam peta
kognitif. Dari pengalaman sebelumnya akan muncul ketika mengalami hal yang
serupa.
4. Teori-
teori lain Menurut snackgratis.blogspot.com/2011/02/hrefislam-download.html
a. Teori
Proses Berlawanan
Teori
Proses-Berlawanan dikembangkan oleh Ridhard Solomon. Ia berpendapat bahwa otak
manusia berfungsi memicu emosi. Dua emosi berlawanan, seperti senang dan tidak
senang, akan selalu muncul dalam satu rentetan peristiwa. Jika emosi A terjadi
kemudian disebut sebagai emosi primer, maka emosi B yang menjadi lawannya dan
disebut sebagai emosi sekunder. Akan muncul pula hingga emosi turun kembali pada
titik normal seperti sediakala. Otaklah yang terus-menerus berfungsi memelihara
keseimbangan atau menjaga equilibrium itu.
Contoh
dari teori ini adalah para penerjun payung amatiran akan merasa senang ketika
berhasil mendarat dengan selamat. Senang merupakan lawan dari emosi takut yang
dialaminya sebelum terjun hingga parasut mengembang. Setelah beberapakali
terjun, rasa takut itupun berkkurang, tetapi rasa senang masih cukup kuat
sehingga aksipenerjunan masih tetap dilakukan. Emosi takut adalah emosi primer,
dan senang adalah emosi sekunder.
Dari pernyataan diatas dapat
disimpulkan bahwa dalam satu rentetan peristiwa terdapat 2
emosi berlawanan, teori ini menganggap otak manusia berfungsi sebagai pemicu
emosi. Otaklah yang memelihara keseimbangan dari emosi.
b. Teori
Emosi Motifasi
Emosi
dan motivasi sering dijelaskan secara bersamaan atau seiring di dalam literatur
karena kaitan antar keduanya memang sangat erat. Bahkan, salah satu teori emosi
menempatkan emosi sebagai rangkaian dari motivasi. Emosi dan motif adalah sama,
dalam arti emosi merupakan bagian dari motif-motif (doronga-dorongan). Pakar
psikologi yang berpendapat seperti ini adalah R.W. Leeper. Untuk menunjukkan
hal tersebut, ia merujuk pada peran proses kognitif dalam emosi dan motif, dan
tidak dianggap kognisi dan emosi sebagai hal yang dikotomis. S.S. Tomkins
mengemukakan bahwa emosi merupakan energi bagi dorongan-dorongan yang selalu
muncul bersama. Ketika seorang anak merasa takut bencana kebakaran yang telah
merembet ke rumah tetangganya, ia terdorong untuk lari menyelamatkan diri
sambil menjinjing sebuah pesawat televisi keluar rumah dengan enteng saat itu.
Jadi, menurut teori ini, emosi yang dirasakan akan memperkuat tambahan energi
pada motivasi tingkah laku.
Menurut
pendapat kelompok kami Emosi
merupakan bagian dari motif-motif (doronga-dorongan), emosi yang dirasakan akan
memperkuat tambahan energy pada motivasi tingkah laku.
c. Teori
Kognitif- Penilaian
Teori
Kognitif-Penilaian adalah teori emosi yang berbasis pada teori Kognitif seperti
pada teori Schachhter-Singer. Bedannya hanya terletak pada penekanannya. Teori
Schachter-Singer lebih menekankan pada kognisi, sedangkan teori ini lebih
menekankan pada hasil penilaian atau evaluasi terhadap informasiyang datang
dari situasi lingkungan yang terjadipada saat itu dan penilaian dari diri
sendiri. Tokoh yang mengembangkan teori ini adalah Richard S. Lazarus.
Dapat disimpulkan bahwa Teori
Kognitif-Penilaian adalah teori emosi yang berbasis pada teori Kognitif seperti
pada teori Schachhter-Singer tetapi lebih menekankan pada hasil penilaian atau
evaluasi terhadap informasi yang diterima. Karena pengalaman menunjukkan bahwa
penilaian tidak selamanya benar atau keliru.
d. Teori
Tiga Dimensi
Teori
ini diperkenalkan oleh pendiri psikologi, Wilhelm Wundt di dalam bukunya
Grundiriss der psychologie pada tahun 1896. Wundt menjelaskan bahwa terdapat
tiga pasang kutub perasaan yang masing-masimg adalah: lust-unlust (senang-tidak
senang), spannung-losung (tegang-tidak tegang) Erregung- beruhigung (semangat-
tenang). Teori ini menjelaskan bahwa setiap emosi yang dialami manusia
mempunyai tiga dimensi yang bergerak pada salah satu kutub yang berlawanan.
Jika seseorang takut pada ular, maka emosi yang muncul adalah unlust, spannung,
dan erregung. Seorang ibu yang sembahyang tahajjud di malam hari, maka emosi
yang mungkin menyertainya adaah lust, losung, beruhigung. Demikian seterusnya
terjadi pada setiap emosi yang dirasakan, yaitu selalu muncul tiga dimensi dari
dua kutub yang berlawanan.
Merujuk
Teori diatas dapat disimpulkan bahwa emosi yang dialami manusia mempunyai
tiga dimensi yang bergerak pada salah satu kutup yang berlawanan. Terdapat tiga
pasang kutup perasaan yang masing- masing adalah: lust-unlust (senang- tidak
senang), spanung- losung (senang- tidak senang), spanung- losung (tegang-tidak
tegang), erregung- beruhigung (semangat- tenang)
Berdasarkan pendapat diatas dapat
kami simpulkan bahwa Emosi adalah sesuatu yang dapat kita
rasakan tetapi sangat sulit untuk didefinikan. Para pakar ahli pisiologi
berupaya mendefinisikan dari teori- teorinya. Beberapa diantaranya yang dibahas
ialah teori James- Lange, teori Cannon- Bard, teori Schachter- Singer, teori-
teori lain (teori proses- berlawanan, teori emosi- motifasi, teori kognitif,
teori tiga dimensi).
Teori
James- Lange mengatakan emosi adalah hasil persepsi sesseorang terhadap
perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh sebagai respon terhadap
rangsangan-rangsangan yang datang dari luar. Teori James- Lange menganggap
perubahan fisiologis terjadi terlebih dahulu sebelum emosi, hal ini
bertentangan dengan teori Cannon-Bard yang menganggapnya secara bersamaan atau
emosi lebih dulu disusun perubahan fisiologis.
Kedua
pendapat ini tidak ada yang salah karena keduanya bisa terjadi. Kelemahan dari
kedua teori ini tidak bisa menentukan jenis dari emosi yang dialami. Teori
Shachter-Singer meyakini bahwa emosi merupakan fungsi interaksi antara faktor
kognitif dan keadaan keterbangkitan fisiologis. Factor kepercayaan seseorang
tentsng sesuatu yang didapatkan dari proses berpikir tentang seseorang atau
sesuatu. Faktor kognisi tersebut sebagai pengalaman yang tersimpan dalam memori
ingatan, sehingga tidak menutup kemungkinan akan muncul kembali ketika
dihadapkan masalah yang sama.
Teori Proses Berlawanan berpendapat dalam
satu rentetan peristiwa terdapat 2 emosi berlawanan, teori ini menganggap otak
manusia berfungsi sebagai pemicu emosi. Teori emosi-motifasi menganggap emosi
merupakan bagian dari motif-motif (doronga-dorongan), teori kognitif penilaian
berbasis pada teori Kognitif yang menekankan pada hasil penilaian. Sedangkan
teori tiga dimensi menjelaskan emosi yang dialami manusia mempunyai tiga
dimensi yang bergerak pada salah satu kutup yang berlawanan.
2.3 Ciri-Ciri Emosi dan Gejala Fisik
2.3.1 ciri-ciri emosi
Ciri-ciri emosi
menurut syamsu yusuf (2002)dalam http://www.s-idolaku-blogspot.com/2012/04/makalah-emosi
.httml
1.
Lebih
bersifat subjektif dari pada peristiwa sikologi lainnya seperti pengamatan dan berfikir
2.
Bersifat
fluktuatif atau tidak tetap
3.
Banyak
bersangkut paud dengan peristiwa pengenalan panca indra dan subyektif.
Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa ciri emosi
mempunyai sifat subyaktik, selalu berubah-ubah dan selalu berkesinambungan.
Menurut abdul rahman
shaleh (2003:160) ciri- ciri emosi yaitu:
1. Perasaan tidak
dapat berdiri sendiri
Perasaan selalu
bersangkutan dengan gejala-gejala jiwa lainnya, misalnya mengamati sesuatu,
memikirkan sesuatu, teringan sesuatu, berfantasi.
2. Perasaan selamanya bersifat perseorangan
Perasaan dapat
diselidiki dengan menggunakan metode ekstiopeksi, yaitu mengamati tingkah laku
lahir seseorang. Tetapi, metode ini tidak datang dipakai kepada orang dewasa,
karena orang dewasa selalu dapat menguasai dirinya. Kemudian perasaan dapat
pula diselidiki dengan menggunakan intropeksi. Perbedaan antara perasaan dan
emosi tidak dapat dinyatakan dengan tegas, karena keduanya merupakansuatu
kelangsungan kualitas dengan jelas batasnya. Pada suatu saat tertentu, suatu
warna efektif dapat dikatakan sebagai perasaan, tetapi dapat juga dikatakan
sebagai emosi, oleh karena itu yang dimaksud dengan emosi disini bukan terbatas
pada emosi atau perasaan saja, tetapi meliputi setiap keadaan pada diri
seseorang yang disertai dengan warna efektif, baik pada tingkat yang lemah
maupun dalam tingkat yang kuat (mendalam).
Menurut
pendapat diatas bahwa ciri emosi ada dua, perasaan tidak dapat berdiri sendiri
yaitu bersangkutan dengan gejala-gejala jiwa yang lain seperti teringan
sesuatu, perasaan selamanya bersifat perseorangan yaitu perasaan dapat
diselidiki dengan menggunakan metode ekstiopeksi yaitu mengamati tingkah laku
lahir sesorang.
Berdasarkan
beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan oleh kelompok kami bahwa ciri emosi
selalu berubah-ubah, bersifat perseorangan, namun tidak dapat berdiri sendiri.
2.3.2 Gejala fisik
Emosi dan gejala fisik menrut abdul rahman shaleh (2013:161-163)seperti
telah dikemukakan diatas perasaan merupakan di atas perasaaan merupakan suatu
keadaan dari individu dari suatu waktu sebagai akibat dari stimulus yang
mengenainya. Kalau keadaan tlah begitu melampaui batas hingga untuk mengadakan
hubungan dengan sekitarnya mungkin terganggu, hal ini akan menyangkut soal
emosi. Dalam emosi prbadi seseorang telah demikian dipengaruhi hingga individu
pada umumnya kurang dapat atau tidak dapat menguasai diri lagi. Tingkah laku
perbuatannya tidak lagi memperlihatkan suatu norma yang ada dalam hidup
bersama, teruji telah memperlihatkan adanya gangguan atau hambatan dalam diri
individu. Seseorang yang mengalami emosi sering tidak lagi memperhatikan
keadaan sekitarnya sesuatu keaktifan tidak dikerjakan oleh oleh individu pada
keadaan normal, kemungkinan akan dikerjakan pada saat individu pada keadaan
emosi. Dengan deikian, maka emosi dipandang sebagai perasaan yang grundal lebih
besar kekuatannya.
Maka pesikologi sebagai suatu ilmu pengatahuan pengkhususkan diri
untuk menyelidiki atau mempelajari dan menerangkan kegiatan-kegiatan psikis
atau mempelajari dan menerangkan kegiatan-kegiatan psikis atau gejala-gejala
kejiwaan yang umumnya terdapat pada manusia-manusia yang normal. Pada setiap
individu yang normal umumnya memiliki gejala-gejala kejiwaan atau
pernyataan-pernyataan jiwa yang secara garis besarnya dalam psikologi umum
dibagi menjadi empat bagian sebagai berikut :
1.
Gejala
pengenalan (koognisi) yang termasuk kegiatan psikis pengenalan/koognisi ini adalah gejala-gejala jiwa seperti pengamatan, tanggapan, ingatan,
isosiasi, fantasi, berfikir
dan intelegensi.
2.
Gejala
jiwa perasaan (emosi): begot, dkk mengenai gejala jiwa perasaan inimenjadi dua bagian, yaitu perasaan-perasaan rendah (jasmaniah) dan perasaan
luruh (rohaniah) perasaan-perasaan
jasmaniah adalah seperti:perasaan pengindraan, dan perasaan vital. Sedangkan perasaan rohaniah seperti perasaan keindahan, perasaan
sosialm perasaan ketuhanan,
perasaan kesusilaan, perasaan diri dan perasaan intelektual.
3.
Gejala
jiwa kehendak (konasi): gejala kehendak ini ada dua macam yaitu gejala kehendak
yang
indra dan gejala kehendak yang rohaniyah. Gejala kehendak indra seperti
tropisme, refleks, insting, atau automsitisme, nafsu, kebiasaan, keinginan
dan kecnderungan. Semua gejala kehendak diatas tidak dipengaruhi oleh pikiran, dan
gejala kehendak yang rohaniah yaitu kemauan.
Gejala campuran adalah minat dan perhatian, kelelahan dan susesti.
Pembagian gejaa-gejala kejiwaan seperti
ini banyak di populerkan oleh psikolog guna memudahkan orang dalam mempelajari
gejala-gejala kejiwaan pada manusia yang normal, karena setiap individu manusia
yang normal dan berbudaya dimana pun berada pada dirinya terdapat keempat
gejala –gejala tersebut baik gejala pengenalan gejala kehandak,dan
gejala-gejala campuran seperti yang telah disebutkan diatas.
Seperti yang telah dikemukakan diatas
dapat kami tarik kesimpulan bahwa emosi, tingkah lku perbuatan tidak lagi
memperlihakan sesuatu norma yang ada dlam hidup bersama, teruji telah
memperlihatkan adanya gangguan atau hambatan dalam diri individu
Pengaruh emosi terhadap perilaku individu
(menurut syamsu yusuf:2008, 115)dalam http://www.s-idolaku-blongspot,com/2012/04/makalh-emosi.html, merupakan warna efektif yang menyertai sikap keadaan atau
perilaku individu. Yang dimaksud dengan warna efektif adalah perasaan tertentu
yang dialami pada saat menghadapi (menghayati) suatu situasi tertentu.
Contihnya gembira, bahagia,putus asa, terkejut, banci, dan sebagainya. Dibawah
ini ada beberapa contoh tentang pengaruh emosi terhadap perilaku individu
diantaranya sebagai berikut:
1.
Memperkuat
semangat, apabila orang merasa senang atau puas atas hasil yang telah dicapainya.
2.
Melemahkan
semangat, apabila timbul rasa kecewa karena kegagalan dan sebagai puncak dari
keadaan ini timbulnya rasa putus asa (frustasi),
3.
Menghambat
atau mengganggu konsentrasi belajar, apabiala sedang mengalami ketegangan emosi
dan bisa juga menimbulkan sikap gugup (nervous) dan gugup dalam bicara.
4.
Terganggu
penyesuaian sosial, apabila terjadi rasa cemburu dan iri hati,
5.
Suasana
emosional yang diterima dan dialami individu semasa kecilnya akan mempengaruhi
sikapnya dikemudian hari, baik terhadap dirinya maupun terhadap orang lain.
Sedangkan perubahan emosi terhadap perubahan fisik (jasmani)
individu dapat dijelaskan dengan gambaran sebagai berikut:
Cnon telah mengadakan penelitian dengan
sorotan sinar “rontgen” terhadap seekor kucing yang baru selesai makan. Ia
melihat bahwa perut besarnya aktif melakukan gerakan yang teratur untuk
mencerna makanan. Kemudian dibawa kedepannya seekor anjing yang besar dan buas.
Pada saat itu, canon melihat bahwa proses pencernaan berhenti seketika, dan
dibagian pembuluh darah bagian lambung mengkerut, disamping itu tekanan
darahnya bertambah dengan sangat tinggi, ditambah lagi dengan perubahan yang
bermacam-macam pada kelenjar-kelenjar seperti bertambahnya dan kekurangan air
liur.
Berdasarkan data tersebut pengaruh emosi terhadap perilaku dan
perubahan fisik individu yaitu (warna efektif yang menyertai sikap keadaan atau
perilaku individu) sebagai contoh gembira, bahagia. Pengaruh emosi ada lima
yaitu memperkuat semangat, melemahkan semangat, mengganggu konsentrasi belajar,
terganggu penyesuaian sosial, suasana emosional yang diterima individu semasa
kecil akan mempengaruhi sikapnya dikemudian hari.
Menurut kelompok kami berdasarkan pendapat diatas dalam emosi,
tingkah laku perbuatan tidak lagi memperlihatkan sesuatu norma yang ada dalam
hidup bersama, teruji telah memperlihatkan adanya gangguan/hambatan dalam diri
individu. Emosi terhadap perilaku dan perubahan individu diantaranya memperkuat
semangat, melemahkan semangat, mengganggu konsentarasi belajar, terganggu
penyesuaian sosial, suasana emosional yang diterima individu semasa kecilnya
akan mempengaruhi sikapnya dikemudian hari.
2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi
Menurut
Sunarto dan B.Agung Hartono (1994:76-78) faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi yaitu:
1. Perubahan
jasmani atau fisik
Perubahan
atau pertumbuhan yang berlangsung cepat selama mas apuber menyebabkan keadaan
tubuh menjadi tidak seimbang. Ketidakseimbangan ini mempengaruhi kondisi psikis
remaja. Tidak setiap remaja dapat segera menerima perubahan yang dialami,
karena tidak semuanya menguntungkan. Terutama jika perubahan tersebut
mempengaruhi penampilannya, misalnya kulit menjadi kasar dan berjerawat.
Hormon-hormon tertentu mulai bekerja sejalan dengan perkembangan alat
kelaminya. Hal ini menyebabkan rangsangan di dalam tubuh remaja yang sering
kali menimbulkan masalah dalam perkebangan psikisnya, khususnya perkembangan
emosinya.
2. Perubahan
dalam hubungan orang tua
Sikap
orang tua dalam mendidik anaknya yang beranjak remaja dengan cara yang menurut
apa yang dianggap baik oleh orang tua, misalnya secara otoriter, penerapan
disiplin yang terlalu kaku, terlalu mengekang, dapat menimbulkan ketegangan
antara orang tua dan anak, yang akan mempengaruhi perkembangan emosinya.
Demikian pula cara memberi hukuman yang tidak sesuai, misalnya memberi hukuman
fisik tampaknya sudah tidak sesuai lagi abgi remaja, jika penerapan hukuman
dilakukan denagn cara yang tidak bijaksana dapat menyebabkan ketegangan yang
lebih berat bahkan mungkin remaja akan berani melakukan pemberontakan, karena
pada dasarnya ada kecenderungan remaja untuk melepas diri dari orang tua.
Adanya ketidakharmonisan antara hubungan orang tua dengan anak, tidak adanya
saling pengertian diantaranya sangat berpengaruh terhadap perkembangan emosi
remaja.
3. Perubahan
dalam hubungan dengan teman-teman
Pada
masa anak biasanya individu membentuk gang dari teman sejenis untuk melakukan
aktivitas bersama. Pada awal remaja mereka membentuk geng yang biasanya
bertujuan positif untuk memenuhi minat bersama mereka,namun jika di teruskan
pada masa remaja tengah atau remaja akhir para anggota mungkin membutuhkanya
untuk melawan otoritas atau untuk melakukan hal yang tidak baik. Yang paling
sering mendatangkan masalah adalah hubungan cinta dengan lawan jenis pada usia
remaja biasanya seseorang mulai jatuh cinta dengan teman atau kenalanya gejala
ini biasa bagi remaja, namun kadang kala menimbulkan hal-hal yang tidak
diinginkan, misalnya cinta yang tidak terbalas atau putus cinta sehingga
mengganggu perkembangan emosi remaja. Percintaan dikalangan remaja juga
terkadang menimbulkan konflik dengan orang tua, karena ada kekhawatiran dari
pihak orang tua kalau terjadi hal-hal yang di luar batas sehingga mereka
melarang anaknya pacaran.
4. Perubahan
dalam hubungan dengan sekolah
Menginjak remaja mungkin mereka mulai menyadari
pentingnya pendidikan untuk kehidupan dimasa mendatang. Hal ini sedikit banyak
dapat menyebabkan kecemasan sendiri bagi remaja. Lebih lanjut berkaitan dengan
apa yang dilakukan setelah lulus, bagaimana prospek untuk mendapatkan
pekerjaan, dan ketakutan memasuki dunia kerja bisa menambah ketegangan dan
kecemasan remaja.
5. Perubahan
atau penyesuaian dengan lingkungan baru:
1) perubahan
yang radikal yang dialami remaja dari masa anak ke masa dewasa menyebabkan
perubahan terhadap pola kehidupannya. Bila mereka tidak dipersiapkan dengan
peran barunya mereka mengalami kesulitan dan timbul perasaan tidak mampu.
2) Adanya harapan sosial untuk perilaku yang
lebih matang.ketika seseorang memasuki masa remaja, ia mulai kelihatan seperti
orang dewasa. Sehubungan denagn hal itu mereka juga diharapkan menyesuaikan
diri untuk bertindak dewasa. Tekanan-tekanan sosial semacam ini sering kali
menyebabkan mereka merasa cemas.
3) Aspirasi yang tidak realistik. Aspirasi pada
semasa anak biasanya tidak realistik. Jika remaja gagal mencapai aspirasi
mereka, akan menyebabkan perasaan tidak mampu dan jika mereka memproyeksikan
kegagalannya kepada orang lain, maka akan menambah perasaan tidak mampunya.
(Harlock, 1973:47)
Berdasarkan pendapat
Sunarto dan Agung Hartono penulis dapat menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi perkembangan emosi diantaranya adalah perubahan jasmani yang
ditunjukkan dengan adanya perubahan yang sangat cepat dari anggota tubuh, pola
interaksi dengan orang tua yang disebabkan pola asuh orang tua terhadap
anaknya, perubahan interaksi dengan teman sebaya ditunjukkan dengan pembentukan
geng-geng, perubahan interaksi dengan sekolah karena remaja mulai menyadari
pentingnya pendidikan di masa depan serta perubahan dengan lingkungan baru yang
dapat menyebabkan konflik-konflik emosional dalam diri remaja.
Hurlock,
1980 (dalam Sunarto,2008 dalam http://www.sidolaku.blogspot.com/2012/04/makalah-emosi.html) mengemukakan bahwa perkembangan emosi remaja
bergantung pada faktor kematangan dan faktor belajar. Sunarto (2008)
mengemukakan bahwa kegiatan belajar turut mengundang perkembangan emosi. Metode
belajar yang dapat menunjang perkembangan emosi antara lain:
1) Belajar dengan
coba-coba.
2) Belajar dengan cara
meniru
3) Belajar dengan cara
mempersamakan diri (learning by identification)
4) Belajar melalui
pengkondisian
5) Pelatihan atau belajar
di bawah bimbingan dan pengawasan.
Dari
uraian Hurlock di atas penulis dapat menganalisis bahwa perkembangan emosi
bergantung pada faktor kematangan dan faktor belajar yang dapat menunjang
perkembangan emosi. Metode belajar dapat dilakukan dengan cara belajar dengan
coba-coba, meniru orang lain, mempersamakan diri kita dengan orang lain,
pengkondisian diri kita, serta adanya pengawasan dalam proses belajar tersebut.
Hurlock
1980 dan Cole 1963 (dalam Elida Prayitno, 2006) menyatakan beberapa penyebab
yang sering menimbulkan emosi negatif yaitu :
1) Memperlakukan remaja
sebagai anak kecil, sehingga mereka merasa harga dirinya dilecehkan.
2) Dihalangi membina
keakraban dengan lawan jenis.
3) Terlalu sering
disalahkan atau dikritik
4) Merasa diperlakukan
secara tidak adil
5) Merasa kebutuhan mereka
tidak dipenuhi oleh orang tua.
6) Diperlakukan secara
otoriter, seperti dituntut harus patuh, lebih banyak dicela, dihukum dan dihina.( http://www.s-idolaku.blogspot.com/2012/04/makalah- emosi.html)
Pendapat
hutlock dan Cole diatas dapat diambil kesimpulan bahwa perkembangan emosi yang
tidak dapat dikendalikan atau diawasi
oleh ortang tua dapat menimbulkan emosi negatif yang dipengaruhi oleh
beberapa faktor diantaranya adalah diperlakukan sebagai anak kecil, tidak boleh
akrab dengan lawan jenis, selalu diperlakukan secara tidak adil, kebutuhannya
tidak dipenuhi, serta dipewrlakukan secara otoriter.
Sesuai
uraian pendapat-pendapat di atas dapat diambil kesimbulan bahwa faktor-faktor
yang mempengaruhi perkembangan emosional diantaranya adalah perubahan jasmani,
perubahan pola interaksi denga orang tua, perubahan interaksi dengan teman
sebaya perubahan interaksi dengan sekolah dan perubahan interaksi denga
lingungan baru. Faktor lain yang dapat mempengaruhi perkebangan emosional
adalah faktor kematangan dan faktor belajar. Di dalam faktor belajar terdapat
metode-metode belajar yang dapat dilakukan dengan cara belajar denagn
coba-coba, meniru orang lain, mempersamakan diri kita denga orang lain,
pengkondisian diri kita dan dengan adanya pengawasan dalam proses belajar
tersebut. Perkembangan emosi yang tidak dapat dikendalikan atau diawasi oleh
orang tua dapat menimbulkan emosi negatif yang dipengaruhi oleh beberapa faktor
diantaranya memperlakukannya seperti anak kecil, tidak boleh akrab dengan lawan
jenis, selalu disalahkan, diperlakukan secara tidak adil, kebutuhannya tidak
terpenuhi serta dilakukan secara otoriter.
2.5 Kapan Emosi Terjadi
Menurut Ekman,Paul 2013 (46-63)
mengatakan bahwa Emosi datang dan pergi. Kita merasakan sebuah emosi pada satu
peristiwa dan mungkin tidak merasakan emosi pada peristiwa yang lain. Sedikit
ilmuwan yang mengklaim bahwa selalu ada beberapa emosi yang terjadi, tapi emosi itu terlalu kecil untuk
kita perhatikan, atau mempengaruhi apa yang kita lakukan. Saya pikir kita
mungkin hanya akan berkata bahwa emosi itu ada waktu ketika kita tidak
mengalami emosi .( secara insidental, mereka yang berfikir kita selalu
merasakan beberapa emosi akan mengakui bahwa itu bukanlah selalu emosi yang
sama. Jadi, mereka juga
mengkonfronasikan masalah dengan menerangkan mengapa kita merasakan satu emosi
pada sau peristiwa danemosi yang lain pada peristiwa yang lain.
TidaK setiap detik dari
kehidupankita itu emosional, sehingga pertanyaannya : mengapa kita menjadi
emosi ketika kita melakukan sesuatu? Cara paling umum yang didalamnya emosi
terjadi ketika kita merasakan, dengan
benar atau salah , bahwa sesuatu yang serius yang telah mempengaruhi
kesejahteraan kita, baik itu yang lebih baik maupun yang lebih buruk, itu
tengah terjadi atau baru saja hendak terjadi. Ini bukan hanya rute untuk
menjadi emosional, tapi yang sangat penting ini mungkin menjadi rute pusat atau
inti untuk menjadi emosional sehingga biarkan kita fous padanya.
Contoh kapan kia menjadi emosi,
ketika bahaya berlalu, anda masih merasa takut dalam diri anda. Akan
berlangsung sepuluh hingga lima belas detik
bagi sensasi-sensasi tersebut untuk meredakan diri, dan tidak akan ada
banyak yang bisa anda lakukan untuk memotong
waktu meradakan sensasi ersebut. Emosi-emosi menghasilkan perubahan pada bagian-bagian otak kita, yang
memobilisasi kita untuk menghadapi apa yang melepaskan emosi, dan juga
perubahan dalam sistem saraf otonmis kita, yang mengatur detak jantung napas,
keringat, dan banyak perubahan badaniyah kita yang lain, yang mempersiapkan
aksi-aksi berbeda.emosi juga mengeluarkan sinyal-sinyal, mengubah ekspresi
kita, serta wajah, suara,dan postur
tubuh kita.
Hampir setiap orang yang meneliti
emosi ini setuju dengan apa yang telah saya gambarkan selama ini : pertama,
bahwa emosi adalah reaksi terhadap masalah yang tampak menjadi sangat penting
bagi kesejahteraan kita. Dan kedua, bahwa emosi seringkali bermula dengan
sangat cepat yang tidak kita sadari prosesnya dalam pikiran kita saat emosi itu
keluar. penelitian tentang otak juga
konsisten dengan apa yang telah saya tunjukan selama ini. Kita bisa menduga tentang peristiwa apa yang
membuat penilai otomatis kita menjadi sensitif terhadap pengujian ketika emosi
itu terjadi. Kebanyakan dari apa yang
kita ketahui bukan berasal dari penelitian kapan orang mengalami satu emosi atau emosi yang lain. Filosofof
Petter Goldie dalam bukunya menyebut hal ini dengan jenis informasi post-rasionalisasi.
Mantan mahasiswa saya,psikolog Jerry
Boucher, mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti itu pada orang di
Malaysia dan Amerika Serikat pada tahun 1970-an. Beberapa tahun kemudian,
kolega saya psikolog Klaus Scherer , dan kolaboratornya, melakukan penelitian
serupa pada mahasiswa di delapan budaya Barat. Mereka menemukan bukti tentang
yang universal-jenis pemicu yang sama
yang dilaporkan bisa menimbulkan emosi yang sama pada budaya yang sangat
berbeda. Mereka juga menemukan bukti
tentang perbedaan budaya pada peristiwa-peristiwa khusus yang juga
membangkitkan emosi. Misalnya, dalam setiap budaya, kehilangan sesuatu yang
penting akan memicu rasa sedih. Tapi yang pasti, sesuatu yang hilang itu
dikatakan berbeda-beda bentuk dan macamnya dari satu budaya ke budaya yang
lain.
Di sepanjang kehidupan, kita
menghadapi banyak peristiwa khusus yang
kita belajar untuk menerjemahkannya dalam suatu cara yang bisa membuat kita
merasa takut, marah, benci, sedih, terkejut, atau senang, dan ini ditambahkan pada peristiwa-peristiwa
universal yang mendahului dan memperluas tentang apa yang penilai otomatis
harus siapkan. Ketika saya meneliti masyarakat pada budaya zaman Batu di New
Guinea pada akhir tahun 1960-an,saya menemukan bahwa mereka taku diserang
babiliar. Pada orang Amerika Urban,
orang lebih takut lagi diserang oleh
perampok, dan kedua kasus tersebut
mempresentasikan sebuah emosi .
Saya meakini bahwa salah satu
karakteristik emosi yang paling khusus adalah bahwa peristiwa-peristiwa yang
memicu emosi itu dipengaruhi bukan hanya oleh pengalaman individu kita, tapi
juga dengan peristiwa masa lalu yang dialami nenek moyang kita. Emosi-emosi ,
dalam frasa Richard Lazarus, adalah frasa yang sangat tepat, yang merefleksikan
“ kebijaksanaan zaman”, baik dalam tema emosi maupun dalam respon emosi.
Penilai otomatis pun mengamati segala apa yang penting bagi keberlangsungan
hidup kita yang tidak hanya dalam kehidupan indvidu kita.
Saya telah menggambarkan sembilan
jalan untuk memasuki atau keluar dari
emosi-emosi kita. Jalan pertama yang paling umum adalah melalui penggunaan
penilai otomatis, yakni mekanisme
penilaian otomatis. Jalan kedua bermula pada penilaian reflektif yang kemudian
berhasil dalam penilai otomatis. sedangakn memori pada pengalaman emosional masa lalu
adalahjalan ketiga, dan imajinasi adalah jalan keempat. Berbicara tentang
peristiwa emosional masa lalu adalah jalan kelima. Empati menjadi jalan keenam.
Sedang, orang lain yang menginstruksikan kita tentang apa yang emosional maksudkan menjadi jalan ketujuh.
Kekerasan norma sosial menjadi jalan kedelapan. Sedangkan yang terakhir adalah mengambil penampakan emosi.
Merujuk pendapat diatas kita
merasakan sebuah emosi pada satu peristiwa dan mungkin tidak merasakan emosi
pada peristiwa lain. Emosi terjadi ketika bahaya berlalu, rasa takut itu muncul
dan akan berlangsung sepuluh hingga lima belas detik bagi sensasi-sensasi
tersebut untuk meredakan diri. Orang meneliti emosi meggambarkan pertama :
emosi adalah reaksi terhadap masalah yang tampak menjadi sangat penting bagi
kesejahteraan kita. Dan kedua, bahwa emosi seringkali bermula dengan sangat
cepat yang tidak kita sadari prosesnya dalam pikiran kita saat emosi itu
keluar. Peristiwa emosi ada 2 yaitu : peniali otomatis dan penilai reflektif.
Penilai otomatis muncul secara otomatis tanpa kita sadari prosesnya dalam
pikiran kita. Contoh ketika kita naik kendaraan dan akan menabrak sesuatu kita
pasti secara spontan akan merasa takut. Kemudian penilai reflektif, emosi
muncul dengan kita sadaridan setelah kita pikir dahulu. Contoh ketika ditempat
kerja kita akan ada pengeluaran pegawai dan terpikirkan oleh kita apakah kita
termasuk orang yang akan di PHK, dan pada saat itu kita merasa takut.
Menurut http://www.septanatana.blogspot.com/2013/03/emosi.html
Hidup tanpa emosi akan terasa membosankan. Pernahkah Anda
membayangkan jika dalam kehidupan tidak ada kebahagiaan, kesedihan, kemarahan,
harapan, kebencian, kecemburuan, maka segala sesuatu dalam hidup akan tampak
datar dan terasa hambar. Tidak akan ada banyak variasi gerakan, dan kita pun
akan mendapat kesulitan menginterpretasikan perilaku orang lain. Tentu saja hal
itu akan membawa akibat terhadap interaksi sosial. Untung saja manusia
mempunyai keadaan emosi dan berusaha mempertahankan keadaan yang menyenangkan
serta menghindari atau menghentikan keadaan yang tidak menyenangkan. Keadaan
emosi itu kemudian muncul dalam bentuk perilaku yang kemudian dapat diamati
oleh orang lain. Dalam konteks psikologi, kita perlu membedakan feeling (perasaan)
dari emosi yang dalam penggunaan bahasa sehari-hari sering dicampuradukkan.
Keadaan yang menyenangkan ataupun yang tidak menyenangkan yang sering
mengiringi banyak kegiatan kita adalah keadaan perasaan yang ringan. Misalnya
minum es jus di hari yang panas sangat menyenangkan, sebaliknya menunggu
pesanan makanan selama 1 jam atau lebih merupakan hal yang tidak menyenangkan.
Hal yang menyenangkan atau tidak menyenangkan yang kita bicarakan ini kita
sebut warna afek. Keadaan afektif yang ringan
disebut feelings
(perasaan). Istilah emosi sendiri menunjukkan keadaan terangsang
dan lebih jelas, luas, seperti misalnya kata-kata kesedihan, kemarahan, teror.
Menurut, Kamus Behavioral Science feelings diartikan sebagai: 1) penjelasan subjektif tentang kesadaran akan keadaan-keadaan tubuh (neural) yang tidak tergantung dari kejadian-kejadian dalam leingkungan individu; 2) tactile sensation; 3) menyadari sesuatu, misalnya perasaan bahwa kita diterima lingkungan; 4) emosi, misalnya bahagia, sedih, marah dan sebagainya. Emosi diartikan sebagai suatu reaksi yang kompleks yang terdiri dari perubahan fisiologis dari keadaan seimbang yang secara subyektif dialami sebagai feeling dan dimanifestasikan dalam perubahan-perubahan tubuh dan dapat dinyatakan dalam tindakan overt.
Kebanyakan psikolog mengelompokkan emosi ke dalam keadaan yang menyenangkan (pleasant) dan yang tidak menyenangkan (unpleasant). Keadaan yang menyenangkan, misalnya kebahagiaan, cinta, kegembiraan dan keadaan yang tidak menyenangkan seperti kesedihan, kemarahan. Klasifikasi ini cenderung mengatakan pentingnya kesenangan dan ketidaksenangan, penerimaan dan penolakan, pendekatan dan penghindaran sebagai dasar emosi. Selain klasifikasi keadaan menyenangkan dan tidak menyenangkan, ada juga istilah emosional yang menyatakan intensitas pengalaman. Perbedaan dalam intensitas ditunjukkan oleh kata-kata yang berpasangan seperti : anger-range, fear-horror, pain-agony, sadness-grief.
Menurut, Kamus Behavioral Science feelings diartikan sebagai: 1) penjelasan subjektif tentang kesadaran akan keadaan-keadaan tubuh (neural) yang tidak tergantung dari kejadian-kejadian dalam leingkungan individu; 2) tactile sensation; 3) menyadari sesuatu, misalnya perasaan bahwa kita diterima lingkungan; 4) emosi, misalnya bahagia, sedih, marah dan sebagainya. Emosi diartikan sebagai suatu reaksi yang kompleks yang terdiri dari perubahan fisiologis dari keadaan seimbang yang secara subyektif dialami sebagai feeling dan dimanifestasikan dalam perubahan-perubahan tubuh dan dapat dinyatakan dalam tindakan overt.
Kebanyakan psikolog mengelompokkan emosi ke dalam keadaan yang menyenangkan (pleasant) dan yang tidak menyenangkan (unpleasant). Keadaan yang menyenangkan, misalnya kebahagiaan, cinta, kegembiraan dan keadaan yang tidak menyenangkan seperti kesedihan, kemarahan. Klasifikasi ini cenderung mengatakan pentingnya kesenangan dan ketidaksenangan, penerimaan dan penolakan, pendekatan dan penghindaran sebagai dasar emosi. Selain klasifikasi keadaan menyenangkan dan tidak menyenangkan, ada juga istilah emosional yang menyatakan intensitas pengalaman. Perbedaan dalam intensitas ditunjukkan oleh kata-kata yang berpasangan seperti : anger-range, fear-horror, pain-agony, sadness-grief.
Menurut pendapat saya Keadaan emosi itu kemudian muncul dalam bentuk perilaku yang
kemudian dapat diamati oleh orang lain. Dalam konteks psikologi, kita perlu
membedakan feeling (perasaan)
dari emosi yang dalam penggunaan bahasa sehari-hari sering dicampuradukkan.
Keadaan yang menyenangkan ataupun yang tidak menyenangkan yang sering
mengiringi banyak kegiatan kita adalah keadaan perasaan yang ringan.
Kesimpulan dari kedua pendapat
tersebut adalah kita
merasakan sebuah emosi pada satu peristiwa dan mungkin tidak merasakan emosi
pada peristiwa lain. Emosi terjadi ketika bahaya berlalu, rasa takut itu muncul
dan akan berlangsung sepuluh hingga lima belas detik bagi sensasi-sensasi
tersebut untuk meredakan diri. Keadaan emosi itu kemudian muncul dalam bentuk
perilaku yang kemudian dapat diamati oleh orang lain. Dalam
konteks psikologi, kita perlu membedakan feeling (perasaan) dari emosi yang
dalam penggunaan bahasa sehari-hari sering dicampuradukkan. Keadaan yang
menyenangkan ataupun yang tidak menyenangkan yang sering mengiringi banyak
kegiatan kita adalah keadaan perasaan yang ringan.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Emosi adalah kondisi perasaan yang berpengaruh terhadap perilaku,
perasaan, dan fungsi vitalnya.
Emosi atau perasaan dapat berfungsi sebagai pengontrol perasaan manusia dari
kemungkinannya terjadi ketegasan kejiwaan atau sebaliknya. Dalam
perkembangannya emosi dapat menimbulkan gejala- gejala fisik serta ciri keadaan
pada saat seseorang mengalami emosi.
Disamping itu emosi juga dapat dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya ada faktor pematangan dan faktor belajar.
Faktor belajar dapat mempengaruhi perkembangan
emosi yang dapat dilakukan dengan beberapa cara.Apabila dalam perkembangan
emosi tidak diawasi
dengan baik oleh orang tua maka dapat menimbulkan emosi- emosi negatif. Emosi dapat datang dan pergi ,itu
menunjukan bahwa emosi muncul setiap saat. Penilaian emosi ada 2 yaitu penilai otomatis dan penilai
reflektif. Peniali otomatis muncul secara spontan tanpa kita sadari sedangkan
penilai reflektif muncul dengan kita sadari terlebih dahulu.
Emosi sering kita rasakan pada kehidupan sehari-hari,tetapi
sulit untuk kita definisikan. Muncullah
teori- teori yang membahas tenteng emosi, beberapa diantaranya teori
James Lange, Teori Cannon Bard, Teori Schahter Singer, Teori proses berlawanan,
Teori emosi motifasi, Teori kognitif
penilaian, dan Teori tiga dimensi.
3.2 Saran
3.2.1 Remaja : dengan mengetahui keadaan emosi dan perkembangan emosi Kita mampu memahami dan menemukan cara-cara yang terbaik dalam menghadapi
diri kita sendiri.
3.2.2 Orang
Tua : apabila
Orang tua telah mengetahui keadaan emosi dan perkembang an emosi anaknya diharapkan mampu mengawasi pola tingkah laku anaknya.
3.2.3 Pendidik : setelah pendidik mengetahui
keadaan emosi dan perkembangan emosi peserta didiknya diharapkan dapat mengetahui setiap aspek dalam
perkembangan emosi peserta didik serta dapat mengatasi labilnya
emosi peserta didik agar proses pembelajaran dapat berjalan
dengan baik dan perkembangan peserta didik berjalan dengan
normal tanpa mengalami gangguan.
3.2.4 Masyarakat : diharapkan masyarakat peka terhadap keadaan emosi dan perkembangan
emosi dikalangan remaja.
3.2.5 Pemerintah : pemerintah telah mengetahui keadaan emosi dan perkembangan emosi remaja sehingga diharapkan dapat membuat kebijakan yang sesuai
dengan kondisi emosi remaja.
Daftar
Pustaka
Hude , M. Darwis . 2006 . Emosi Khasanah kajian al-qur”an . Jakarta : Erlangga.
Shaleh , Abdul Rahman . 2009 . Psikologi Suatu pengantar dalam Perspektif Islam. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Sunarto , dkk . 1994 . Perkembangan Peserta Diidik . Jakarta : Direktorat Jendral
Pendidikan tinggi Departemaen pendidikan dan kebudayaan.
Paul, Ekman . 2013 . pedoman Membaca Emosi Orang . Jogjakarta : Divapres.
http://www.pengertian
ahli.com/2013/11/pengertian-ahli-menurut-para-ahli.html
http://www.smartspsikologi.blogspot.com/2007/11/apakah-fungsi-fungsi-emosi-html
http://www.snackgratis.blogspot.com/2011/02/hrefislam-download.html
http://www.s-idolaku-blogspot.com/2012/04/makalah-emosi
.httml
http://www.s-idolaku-blongspot,com/2012/04/makalh-emosi.html
http://www.sidolaku.blogspot.com/2012/04/makalah-emosi.html
http://www.septanatana.blogspot.com/2013/03/emosi.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar